Jatuh Dan Diangkat
Lukas 22:54-60
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”
- Yohanes 21:17a
Petrus, si impulsif yang menghampiri Tuhan Yesus di tengah badai, tetapi yang kita ingat adalah bagaimana ia tenggelam. “Makanya, jangan banyak gaya!” Petrus, salah satu dari dua murid yang berusaha mengiring Tuhan Yesus di dalam kesengsaraan-Nya, tetapi yang kita ingat adalah penyangkalannya. “Makanya, jangan banyak gaya!”
Mudah sekali menempatkan diri di posisi kesebelas murid lainnya dan mengecam Petrus. Namun ingat, kejatuhan-kejatuhan yang Petrus alami terjadi manakala ia hendak melangkah maju. Petrus ibarat seorang anak yang sedang belajar naik sepeda. Agar dapat bersepeda bersama-sama kakaknya, ia harus jatuh bangun berkali-kali sampai lecet sana-sini. Jadi, kita dan saudara-saudara yang lainnya, yang tidak bisa dan tidak mau belajar naik sepeda, lantas mencibirnya, “Makanya, jangan banyak gaya!”
Apa yang membuat kita mengecam Petrus? Mungkinkah karena sebenarnya kita ingin melakukan apa yang Petrus lakukan, tetapi takut mengalami kejatuhan? Kita tahu, seorang pengikut Kristus harus mengikuti-Nya meski di tengah badai, bahkan mengiring-Nya sampai di kaki salib. Namun, kita memilih diam di zona nyaman agar tidak merasakan kegagalan. Kita memilih lari meninggalkan-Nya di Getsemani daripada harus terjebak di dalam Rumah Imam Besar.
“Daripada aku menyangkal Sang Guru seperti Petrus, lebih baik aku sembunyi.” Inilah gambaran kita, orang-orang Kristen yang sudah nyaman dengan segala rutinitas agamawi. Kita takut jatuh dari sepeda sehingga memilih main rumah-rumahan di gereja yang aman. Akibatnya, inilah kita: orang-orang Kristen yang suam-suam kuku.
“Tapi tetap saja Petrus gagal, bukan?” Ingatlah, dari kedua belas murid Yesus, hanya Petrus satu-satunya yang pernah merasakan tangan kuat-Nya yang mengangkat dari gelora air dan yang mendengar panggilan lembut-Nya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”, tidak hanya sekali, bahkan tiga kali.
Rumah Imam Besar menghantarkan Petrus ke pesisir damai Tiberias. Kejatuhannya tergantikan dengan pengalaman indah bersama Sang Guru, sebuah momen yang tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang memilih main aman dan bersembunyi. Anak yang jatuh berkali-kali dari sepedanya akhirnya bisa bersepeda bersama-sama Sang Kakak yang mengangkatnya setiap kali ia jatuh. Sementara anak-anak yang tidak mau mencoba naik sepeda karena takut gagal hanya bisa memandang dari kejauhan.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah menolak melakukan sesuatu meskipun Anda tahu Tuhan memanggil Anda melakukannya karena takut gagal?
- Sebaliknya, jika Anda seperti Petrus yang berani menjalankan panggilan Anda, tetapi saat Anda mengalami kegagalan, apakah Anda mau memercayakan diri Anda kepada-Nya yang akan memulihkan dan mengangkat Anda dari kegagalan?
