Bagikan artikel ini :

Jangan Terobsesi Milik Sesama

Keluaran 20:10-17

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.”
- Keluaran 20:17

Hari ini kita merenungkan tentang Perintah Allah yang kesepuluh, yakni jangan mengingini milik sesama. Jika sembilan perintah sebelumnya berbicara mengenai dosa atas suatu tindakan, seperti jangan membunuh, berzinah, mencuri, dan yang lainnya, maka perintah kesepuluh berbicara soal keinginan. Keinginan ada pada wilayah yang berbeda dengan tindakan atau perbuatan. Keinginan muncul dari dalam hati manusia sehingga sulit untuk diukur. Pelanggaran ini hanya bisa diketahui oleh diri sendiri dan oleh Tuhan saja.

Apa maksud Allah memberikan perintah kesepuluh ini? Sebelumnya, kita perlu mengetahui dua hal: Pertama, apa yang dimaksud mengingini? Kedua, apa objek yang diinginkan? Kata “mengingini” yang dipakai dalam ayat emas bukanlah menggambarkan keinginan biasa. Kata “mengingini” di sini lebih tepat diterjemahkan sebagai obsesi, yakni hasrat mendalam yang amat kuat menguasai hati, pikiran, dan perasaan seseorang sehingga membuatnya rela melakukan apa pun demi mendapatkan obsesinya.

Sementara yang menjadi objek obsesi bukanlah benda biasa, melainkan spesifik milik orang lain. Jika diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, kita dapat membaca perintah ini demikian: Jangan kamu terobsesi atas milik sesamamu. Kenapa tidak boleh? Pertama, obsesi hanya akan menjadi pintu masuk bagi dosa lain dalam kehidupan kita. Ahab terobsesi dengan kebun milik Nabot (1Raj. 21:1-16). Sekalipun Ahab adalah seorang raja, ia tidak berhasil membeli kebun tersebut. Akibatnya, ia memilih membunuh Nabot agar mendapatkan kebun tersebut karena obsesinya. Kedua, obsesi terhadap milik orang lain hanya membawa diri kepada derita tiada akhir. Sebagaimana pepatah berbunyi: rumput tetangga selalu lebih hijau, bahkan seorang raja yang punya harta, takhta, dan nama pun tidak bisa lepas dari obsesi yang salah.

Satu hal yang dapat melepas kita dari obsesi, yaitu rasa syukur. Banyak orang mengira Allah membutuhkan pujian dari kita sehingga Dia membuat perintah untuk bersyukur. Ternyata yang lebih membutuhkan rasa syukur adalah kita sebagai manusia, agar kita senantiasa mengingat bahwa terobsesi dengan berkat dan milik orang lain hanya akan membawa pada dosa dan derita. Kebebasan sejati kita peroleh dari rasa syukur atas apa yang Allah telah anugerahkan.


Refleksi Diri:

  • Apa yang mungkin menjadi obsesi Anda saat ini? Hati-hati jika obsesi menyangkut barang milik orang lain, sebaiknya mawas diri.
  • Apa saja hal-hal yang Tuhan sudah berikan dalam hidup Anda saat ini? Apakah Anda sudah bersyukur atas pemberian tersebut?