Bagikan artikel ini :

Jangan Mempermainkan Tuhan

2 Raja-raja 23:31-24:4

Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?
- Ibrani 10:29

Dampak dari kebodohan yang dilakukan Yosia di akhir hidupnya, ternyata tidak hanya merenggut nyawanya, seperti yang telah kita baca di bagian sebelumnya. Di bagian ini kita melihat dampak selanjutnya, yakni yang menimpa kedua anaknya. Sesudah kematian Yosia, anaknya yang bernama Yoahas diangkat menjadi raja. Namun, baru tiga bulan memerintah, ia dilengserkan dari takhtanya oleh Firaun Nekho (23:31-33). Nekho kemudian mendudukkan anak Yosia yang lain, Elyakim atau Yoyakim, menggantikannya. Nekho bisa begitu berkuasa, sampai-sampai sanggup melengserkan dan mengangkat raja Yehuda seenaknya karena ia berhasil membunuh Yosia, raja sebelumnya. Yehuda pun jatuh di bawah kekuasaan Mesir dan harus membayar upeti (23:35).

Mudah bagi kita untuk bersimpati dengan Yoahas dan Yoyakim yang sepertinya menjadi korban dalam kisah ini. Tapi jangan salah. Kedua raja ini sama-sama dicatat, “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN” (23:32, 37). Mereka membatalkan segala kebijakan yang Yosia buat dan memberhentikan reformasi yang dengan susah payah dicapainya. Tak hanya itu, kitab Yeremia memberikan info lebih jauh mengenai kejahatan Yoyakim. Ia membunuh Nabi Uria bin Semaya (Yer. 26:20-23) dan membakar gulungan kitab yang berisi nubuatan Yeremia (Yer. 36:21-32).

Sebagai hukuman atas kejahatannya, keseluruhan pemerintahan mereka hanyalah menjadi raja boneka yang dipingpong dari satu penjajah ke penjajah lain, yakni Babel dan Mesir (24:1). Bahkan Tuhan mengirim pasukan Kasdim (atau Babel), Aram, Moab, dan Amon untuk membinasakan mereka (24:2).

Kisah-kisah seperti ini membuat kita malas membaca Perjanjian Lama, bukan? Isinya hanyalah tentang kemarahan dan hukuman Tuhan. Sepertinya Perjanjian Baru lebih enak dibaca karena menghadirkan sosok Tuhan Yesus yang penuh kasih.

Allah kita memang adalah Allah yang mahakasih. Namun, jangan lupa bahwa Dia juga adalah Allah yang mahaadil dan mahakudus. Justru ketika kita terlalu menekankan atribut kasih Tuhan dan mengabaikan yang lain, kita akan berakhir seperti Yoyakim yang mempermainkan Tuhan. Hal ini juga berlaku di zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya penulis Ibrani memperingatkan kita bahwa hidup dalam dosa sama dengan menginjak-injak Tuhan Yesus dan menghina Roh Kudus.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana Anda menanggapi kisah-kisah mengenai murka dan hukuman Tuhan? Apa kesan yang Anda dapatkan saat membandingkannya dengan kisah-kisah yang menyatakan kasih Tuhan? Apakah Anda menemukan Tuhan yang sama?
  • Bagaimana cara menjaga diri kita agar tidak hidup dalam dosa dan mempermainkan kasih Tuhan?