Iri Hati Terhadap Kemakmuran
Mazmur 73:1-20
Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
- Mazmur 73:2-3
Di antara kita mungkin pernah merasa sangat kesal ketika melihat orang jahat atau bermoral buruk hidup dalam kemewahan, sedangkan kita yang berusaha hidup benar justru mengalami berbagai kesulitan. Asaf, penulis Mazmur 73, mengalami pergumulan yang sama dan hampir kehilangan imannya karena iri terhadap kemakmuran orang fasik.
Asaf dengan jujur mengakui bahwa ia hampir “terpeleset” dalam imannya. Ia melihat orang-orang yang tidak mengenal Tuhan hidup dalam kemewahan, sehat, dan tampak tidak memiliki masalah. Sementara dirinya, yang setia kepada Tuhan, mengalami penderitaan setiap hari. “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah” (ay. 13).
Iri hati terhadap kemakmuran orang lain adalah salah satu ujian terbesar bagi orang percaya. Di media sosial, kita dengan mudah melihat gaya hidup mewah orang-orang yang mungkin tidak memiliki nilai moral yang sama dengan kita. Mereka berlibur ke luar negeri, membeli barang-barang mahal, dan tampak menikmati hidup tanpa beban rohani apa pun.
Yang membuat iri hati semakin menyakitkan adalah ketika membandingkannya dengan kehidupan kita yang penuh tanggung jawab rohani. Kita memberikan persepuluhan sehingga uang yang tersisa lebih sedikit. Kita memilih pekerjaan berdasarkan nilai, bukan mengutamakan gaji. Kita menghabiskan waktu untuk pelayanan daripada mengejar karier. Pilihan-pilihan tersebut terkadang membuat hidup kita secara materi tidak semewah orang lain.
Titik balik pergumulan Asaf terjadi ketika ia masuk ke dalam tempat kudus Allah (ay. 16-20). Di sana ia mendapatkan perspektif yang benar tentang nasib akhir orang fasik. Ia menyadari bahwa kemakmuran tanpa Tuhan hanyalah sementara, seperti mimpi yang akan lenyap ketika orang terbangun. Asaf menyadari bahwa selama ini ia telah memiliki harta yang jauh lebih berharga, yaitu persekutuan dengan Tuhan, kehidupan yang dekat denganNya (ay. 23-24).
Iri hati terhadap kemakmuran duniawi menunjukkan bahwa kita masih mengukur keberhasilan dengan standar dunia, bukan dengan standar kerajaan Allah. Kita lupa bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang kita miliki, tetapi hubungan kita dengan Tuhan. Kemakmuran yang tidak disertai dengan kedamaian hati, hubungan yang sehat, dan tujuan hidup yang jelas bukanlah kemakmuran yang sesungguhnya.
Refleksi Diri:
- Bagaimana respons Anda selama ini saat melihat kemakmuran orang lain yang belum mengenal Tuhan Yesus? Apakah ada perasaan iri hati muncul?
- Apa saja kekayaan rohani yang sudah Anda miliki ketika berada di dalam Kristus? Bagaimana jika dibandingkan kekayaan duniawi?
