Ingatlah Akan Penciptamu
Pengkhotbah 12:1-8
Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kau katakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!”
- Pengkhotbah 12:1
Kita hidup di zaman yang begitu cepat, sibuk, dan penuh distraksi. Orang mengejar karier, uang, dan popularitas tanpa henti. Namun, satu kenyataan yang sering dilupakan orang adalah hidup hanya sekali. Ini bukan berarti kita boleh melakukan semua yang kita mau, tetapi justru karena hidup hanya sekali maka jalani dengan bijak dan berkenan di hadapan Tuhan.
Frasa “Ingatlah akan Penciptamu” adalah panggilan untuk kembali kepada Tuhan dalam dunia yang makin melupakan-Nya. Kenapa? Pertama, karena hidup ini singkat dan cepat berlalu. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm. 90:12) mengajak kita untuk hidup dengan kesadaran akan kefanaan sehingga setiap hari harus dipakai dengan bijak dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Menghitung hari berarti hidup dengan tujuan, bukan sekadar menjalani rutinitas, melainkan membangun kehidupan yang bermakna.
Kedua, ingatlah penciptamu, bukan hanya pencapaian. Raja Salomo yang memiliki segalanya: hikmat, kekayaan, wanita, dan prestise, menutup refleksi hidupnya di masa tua dengan nasihat, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu”. Salomo menekankan pentingnya mengingat dan menghormati Sang Pencipta sejak masa muda, sebelum datang masa tua yang penuh kesulitan dan keterbatasan. Zaman media sosial dan narsisme digital mendorong manusia untuk mudah melupakan Tuhan dan mengagungkan diri sendiri. Sebagai orang percaya, kita diminta mengingat dan mengenal Sang Pencipta agar menemukan tujuan dan ketenangan sejati. Ketiga, karena hidup yang berpusat pada Tuhan membawa dampak kekal. “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus,.…” (2Kor. 5:10). Ingatlah, hidup kita akan diuji oleh Tuhan sendiri. Arahkanlah hidup pada kekekalan, bukan hanya pada kesuksesan sesaat di dunia. Seorang arsitek besar tidak membangun rumah untuk satu minggu, tapi untuk bertahan lama. Demikian juga Tuhan merancang hidup kita bukan untuk sekadar “viral” sesaat, tapi untuk kekekalan.
Ingatlah Tuhan bukan hanya ketika kita sudah tua, gagal atau sakit, tetapi sejak sekarang ini. Marilah membangun disiplin rohani di tengah kesibukan dan jadwal yang padat. Evaluasi prioritas hidup, apakah kita mengejar kehendak Tuhan atau prestasi duniawi. Tunjukkan gaya hidup yang takut akan Tuhan di tengah budaya yang egois dan kafir. Hidup berintegritas, mengasihi, dan melayani.
Refleksi Diri:
- Apa saja kesibukan atau kesenangan dalam hidup yang paling sering membuat Anda lupa akan Tuhan sebagai Pencipta Anda?
- Bagaimana cara Anda secara nyata “mengingat Pencipta” dalam rutinitas harian, baik di sekolah, tempat kerja, media sosial, maupun dalam keputusan penting hidup Anda?
