Ingat Anugerah-Nya
Mazmur 78:1-8
Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya. Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali.
- Mazmur 78:38-39
Terkadang seseorang bisa menceritakan satu peristiwa yang hampir merenggut nyawanya dengan luar biasa. Sangat antusias, berapa kalipun ia bercerita tentang peristiwa tersebut, nada dan semangatnya luar biasa. Namun, tidak demikian ketika seseorang menceritakan tentang kasih karunia Tuhan yang telah menyelamatkan dirinya. Ketika ia mengingat ketidaklayakan untuk diselamatkan sebagai orang berdosa, tetapi dalam anugerah Tuhan dirinya bisa diselamatkan, masihkah ia menceritakannya dengan antusias? Atau sebaliknya, ia merasa sudah biasa-biasa saja?
Orang Israel berkali-kali memberontak dan menyakiti hati Tuhan, tetapi Tuhan tetap mengasihi mereka (ay. 38-39). Tuhan sangat berbelas kasihan kepada orang Israel yang sudah keterlaluan itu. Di dalam anugerah-Nya, Dia tidak memusnahkan mereka, bangsa yang kecil, yang tiada artinya itu. Kebanyakan kisah yang kita baca di Mazmur 78 terjadi pada masa orang Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun setelah keluar dari Mesir. Akan tetapi, tahukah Anda berapa lama rentang waktu dari orang Israel keluar dari Mesir sampai waktu Asaf menuliskan Mazmur ini? Kira-kira 400 tahun lebih. Di dalam rentang waktu tersebut orang Israel bolak-balik berlaku tidak setia kepada Tuhan dan menyakiti hati-Nya. Namun, Tuhan tidak pernah mengingkari perjanjian-Nya, anugerah-Nya begitu besar dalam hidup orang Israel.
Nyanyian sejarah di Mazmur 78 ini ditutup dengan memilih Daud menjadi gembalanya, “Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya” (Mzm. 78:72). Puncak penggenapan anugerah Tuhan ada di dalam Kristus Yesus. Entah sudah seberapa kotornya dunia ini karena dosa-dosa manusia, dosa Anda dan saya. Entah sudah berapa kali Tuhan disakiti karena pelanggaran dan pemberontakan kita. Namun dalam kasih karunia-Nya, Kristus datang untuk menyelamatkan manusia, menebus menguduskan mereka, melalui pengorbanan-Nya. Dalam anugerah-Nya, kita menyaksikan kesetiaan Tuhan.
Jika kita memahami betapa besarnya anugerah Tuhan dalam hidup kita, di dalam pergumulan terberat sekalipun, kita tidak akan menuduh Tuhan tidak baik. Kita tidak akan menaruh curiga bahwa Tuhan sedang membiarkan dan tidak peduli lagi kepada kita. Inilah yang perlu kita ajarkan kepada generasi berikutnya seperti yang disampaikan pemazmur di perikop bacaan, yaitu anugerah Tuhan yang sangat besar.
Refleksi Diri:
- Apa artinya anugerah Tuhan bagi hidup Anda?
- Bagaimana Anda mau mengajarkan kepada generasi selanjutnya, tentang anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus yang menyelamatkan Anda?
