Iman Yang Bertahan Di Tengah Relativisme Kebenaran
2 Timotius 4:1-5
Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
- 2 Timotius 4:4
Bayangkan seorang dokter mendiagnosa pasiennya menderita penyakit serius. Sang dokter tahu untuk menyelamatkan nyawa pasien, ia harus mengatakan kebenaran dan memberi obat pahit. Namun, pasiennya tidak mau mendengar berita buruk. Ia hanya mau diberi vitamin dan kata-kata penghiburan. Jika dokter hanya mengikuti keinginan pasien, ia sebenarnya membiarkannya berjalan menuju kematian. Hal serupa berlaku dalam hal pemberitaan firman. Jika hanya menyampaikan apa yang menyenangkan hati orang, tetapi menutup-nutupi kebenaran, tindakan tersebut bukanlah kasih, melainkan pengkhianatan rohani.
Rasul Paulus menuliskan surat kepada Timotius dari dalam penjara di Roma, menjelang akhir hidupnya. Paulus memberikan sebuah penugasan yang sangat serius dan sakral kepada Timotius, yakni memberitakan firman Tuhan dengan tekun, dalam segala keadaan, entahkah ketika waktunya dianggap “baik” maupun tidak. Di ayat 3-4, Paulus mengingatkan “akan datang waktunya” zaman kemerosotan rohani, yakni orang akan menolak ajaran sehat (doktrin yang benar). Mereka akan mengumpulkan guru-guru palsu untuk memuaskan keinginan pribadi, artinya hanya mau mendengar apa yang enak di telinga, bukan yang benar. Mereka akan berpaling dari kebenaran pada “dongeng” (cerita yang tidak berdasarkan ke-benaran Alkitab). Ayat ini mencerminkan bahaya relativisme rohani dan kompromi terhadap firman.
Hal ini sangat relevan di masa kini, di mana banyak orang menilai kebenaran berdasarkan perasaan, budaya atau opini pribadi. Karena itu, Paulus menekankan agar menguasai diri dalam segala hal, bersedia menderita, melakukan pekerjaan pemberitaan Injil dan melaksanakan pelayanan dengan sepenuh hati (ay. 5). Ayat-ayat ini menggambarkan panggilan pelayanan yang berat tetapi mulia dan menjadi warisan rohani bagi semua pelayan Tuhan di sepanjang zaman. Ini semacam “pengutusan terakhir” dari seorang rasul yang akan segera menyelesaikan perlombaannya (sebagaimana dilanjutkan di ayat 6-8).
Sebagai pelayan Tuhan, kita memiliki tanggung jawab kekal. Pelayanan bukan sekadar aktivitas rohani, tetapi memiliki nilai kekal karena kita akan dihakimi oleh Kristus sendiri. Firman Tuhan (berita Injil) harus diberitakan dengan setia, tidak tergantung suasana, audiens atau zaman. Penyimpangan dari ajaran sehat harus diantisipasi dan pengajar sejati harus siap menegur, mengoreksi, dan menguatkan jemaat. Pelayanan membutuhkan ketekunan dan penderitaan–tidak selalu populer, tapi harus tetap dikerjakan dengan setia.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda masih setia menyampaikan atau menerima kebenaran firman Tuhan, meskipun tidak nyaman atau bertentangan dengan keinginan pribadi?
- Bagaimana Anda akan menjalankan pelayanan dengan setia di tengah situasi sulit, serta bukannya mudah menyerah dan berkompromi? Apa respons Anda ketika pelayanan tidak dihargai, ditolak, dan terasa berat?
