Iman Yang Bertahan Di Tengah Badai
Yakobus 1:12-14
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
- Yakobus 1:12
Suatu ketika, seorang anak mendapati kapal milik ayahnya yang nelayan, luluh lantak diterjang badai dalam pelayarannya. Sang anak bertanya, “Yah, kenapa ayah masih bisa tersenyum meskipun semuanya rusak?” Sang ayah menatap anaknya dan menjawab pelan, “Nak, badai memang bisa merobohkan, tapi tidak bisa merobohkan harapan. Kapal bisa rusak oleh badai, tapi setelah badai berlalu, kapal ini masih dapat dipulihkan.” Anak itu terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ada ketenangan dalam suara sang ayah yang membuat hatinya ikut tenang.
Hidup sebagai pengikut Kristus tidaklah berarti dijauhkan dari penderitaan. Ada kalanya kita harus melewati musim yang gelap, penuh tekanan dan air mata. Akan tetapi, Rasul Yakobus mengingatkan di ayat emas bahwa orang yang bertahan dalam pencobaan (penderitaan), yang tetap setia meski terluka, akan menerima mahkota kehidupan dari Tuhan. Ini adalah suatu pengharapan dan janji Tuhan yang sangat indah.
Yang menarik untuk diperhatikan adalah kata “berbahagialah” (makarios) yang dipakai pada ayat tersebut adalah kata yang sama yang digunakan Yesus pada khotbah di bukit (Mat. 5:1-12). Kata “berbahagialah” bisa juga berarti “diberkatilah”. Pertanyaannya, mengapa seseorang yang bertahan dalam pencobaan (penderitaan) disebut yang berbahagia atau yang diberkati? Karena bagi mereka yang percaya Yesus, penderitaan dapat menjadi sebuah permurnian iman dan mereka disebut “yang diberkati” atau “yang berbahagia” karena hasil rohaniah dalam melewati badai.
Di dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita mau jujur dengan berbagai persoalan hidup yang ada, kadang kita merasa goyah, bahkan nyaris menyerah. Namun, di situlah kasih Tuhan bekerja, bukan dengan menjauhkan badai, melainkan dengan memberikan kekuatan untuk kita tetap bisa berdiri di tengah badai. Iman sejati bukan hanya tampak ketika semuanya baik-baik saja, melainkan ketika kita tetap percaya saat segalanya tampak berat dan gelap.
Hari ini mungkin kita tidak melihat jalan keluar. Tetap percaya, Tuhan Yesus tidak pernah melepaskan tangan-Nya. Dia selalu menyertai dan memurnikan kita melalui setiap badai kehidupan. Pada akhirnya, bagi kita yang tekun akan ada upah yang kekal menanti bukan karena kita hebat, tapi karena kasih-Nya yang hebat menopang kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda tetap menggenggam tangan Tuhan atau justru mulai menjauh dari-Nya di saat menghadapi masa-masa sulit yang Anda alami saat ini?
- Apa bentuk ketekunan dan kesetiaan yang bisa Anda lakukan hari ini sebagai tanda iman yang bertahan?
