Iman Sebagai Dasar Pengharapan
Ibrani 11:1-12
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
- Ibrani 11:1
Pernahkah Anda diminta untuk menjelaskan apa itu iman kepada seseorang yang skeptis? Iman seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang tidak jelas, tanpa dasar atau sekadar percaya buta. Definisi alkitabiah tentang iman dalam Ibrani 11:1 memberikan gambaran yang sangat berbeda dan mengejutkan.
Kata “dasar” dalam ayat emas secara harfiah berarti landasan tempat berdiri atau fondasi yang kokoh. Istilah serupa digunakan dalam konteks arsitektur untuk menggambarkan pondasi bangunan yang kuat. Tanpa pondasi yang kuat, suatu bangunan tidak bisa berdiri kokoh saat diterpa badai ataupun banjir. Jadi, iman bukanlah sesuatu yang rapuh atau tidak pasti, melainkan fondasi yang kokoh tempat pengharapan kita berdiri saat menghadapi badai kehidupan.
Selain itu, kata “bukti” di ayat emas berarti kepastian atau keyakinan yang berdasar. Kata ini adalah istilah hukum yang digunakan untuk menggambarkan bukti yang tidak terbantahkan. Iman Kristen bukan berdasarkan perasaan atau harapan kosong, tetapi berdasarkan buktibukti kesetiaan Tuhan yang sudah dinyatakan sepanjang sejarah.
Iman dan pengharapan memiliki hubungan yang erat, tetapi berbeda pengertiannya. Iman adalah keyakinan pada karakter dan janji-janji Tuhan, sementara pengharapan adalah antisipasi akan penggenapan janji-janji tersebut. Iman melihat ke belakang pada apa yang sudah Tuhan lakukan, pengharapan melihat ke depan pada apa yang akan Tuhan lakukan. Keduanya bertemu pada momen sekarang, memberikan kita kekuatan untuk hidup dengan keyakinan.
Konteks Ibrani 11 memberikan daftar panjang orang-orang yang hidup berdasarkan iman: Abraham yang meninggalkan negerinya tanpa tahu akan pergi ke mana, Musa yang memilih menderita bersama umat Tuhan daripada menikmati kemewahan istana, dan banyak lagi. Yang menarik, tidak semua dari mereka melihat penggenapan janji Tuhan secara penuh dalam hidup mereka. Namun, mereka tetap hidup dengan pengharapan karena yakin pada kesetiaan Tuhan.
Sadarilah, iman kita berbeda dengan rasa optimisme biasa. Optimisme berdasarkan pada kemungkinan yang terlihat, sementara iman berdasarkan pada karakter Tuhan yang tidak berubah. Ketika keadaan terlihat mustahil, tetaplah percaya dengan iman kepada Kristus Yesus karena bagi Dia tidak ada yang mustahil.
Refleksi Diri:
- Apakah iman Anda berdasarkan pada perasaan dan keadaan yang berubah-ubah atau pada karakter Tuhan yang tidak berubah?
- Bagaimana Anda dapat memperkuat fondasi iman Anda? Apakah melalui kisah-kisah di Alkitab mengenai kesetiaan Tuhan, pengalaman pribadi atau yang lainnya?
