Bagikan artikel ini :

Ibadah Dan Pengajaran

2 Tawarikh 17:1-9

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
- Mazmur 119:105

 

Asa digantikan oleh anaknya, Yosafat, yang menjadi raja Yehuda Selatan. Seperti ayahnya, Yosafat juga dinilai sebagai raja yang baik. Ia menjauhkan kerajaannya dari penyembahan berhala dan Tuhan menyertainya sehingga kerajaannya makin kokoh. Namun, ada satu hal yang secara spesifik dilakukan Yosafat yang tidak dilakukan Asa, yakni mengutus orang untuk mengajarkan Taurat (ay. 7-9).

 

Apa yang dilakukan Asa dan diteruskan oleh Yosafat menjadi gambaran dari pertumbuhan kita baik sebagai individu Kristen, maupun komunitas gereja—sesudah mengalami kebangunan rohani. Asa memulainya dengan memperbaiki ibadah (2Taw. 15) dan Yosafat melanjutkannya dengan pemuridan, yakni mengajarkan firman kepada rakyatnya. Ini adalah model yang ideal.

 

Sebagai orang Kristen, kita sering berlaku berat sebelah. Kita mungkin mencari gereja dengan ibadah yang heboh dan mentereng, tetapi tidak mengiringinya dengan proses pemuridan dan pengenalan yang benar akan firman Tuhan. Akibatnya, ibadah yang kita lakukan hanyalah sekadar manipulasi emosi, perasaan sesaat yang dengan mudah dapat diombang-ambingkan oleh pengajaran yang salah. Pada akhirnya, iman kita menjadi sangat dangkal. Sebaliknya, ada juga di antara kita yang terlalu mengutamakan pengajaran doktrin dan khotbah-khotbah yang berat, tetapi tanpa didahului oleh kerinduan menyembah dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Akibatnya, segala pengetahuan yang kita dapatkan bukannya membuat kita makin takut akan Tuhan, melainkan makin sombong rohani. Seharusnya Tuhan yang disembah, tetapi kita malah menyembah intelektualitas kita.

 

Ibadah dan pemuridan adalah dua hal yang saling melengkapi dan sama-sama penting. Ketika kita sebagai individu atau komunitas gereja hanya mengutamakan salah satu maka ketimpangan akan terjadi. Hasilnya adalah orang-orang atau gereja yang “spesialis ibadah” atau “spesialis doktrin”. Akibatnya, penyembahan yang salah dan doktrin yang kosong. Penyembahan yang salah karena tidak berdasar pada pengenalan kepada Tuhan yang benar dan doktrin yang kosong karena hanya diisi teori-teori belaka, tanpa pengalaman penyembahan kepada Tuhan.

 

Marilah kita membangun kerohanian yang bukan hanya memiliki kehidupan beribadah yang sungguh-sungguh, tetapi juga kerinduan untuk diperlengkapi firman yang benar. Temukan keseimbangan dalam penyembahan dan pendalaman firman kita.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda cenderung tipe yang menekankan ibadah (misalnya, mencari gereja yang suasana ibadahnya mengangkat) atau pengajaran (misalnya, mencari khotbah-khotbah yang relatif lebih berat)?
  • Apa yang dapat Anda lakukan untuk menyeimbangkan keduanya?