Hikmat Di Dalam Kelemahlembutan
Bilangan 12:1-16
Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
- Bilangan 12:3
Kelemahlembutan adalah salah satu buah roh (lih. Gal. 5:22-23) yang sulit dimengerti dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari karena kerap didefinisikan sebagai sifat yang lembek. Kata “lemah” dalam kelemahlembutan seringkali disalahartikan dan kita cenderung lebih menyukai kekuatan dibandingkan kelemahlembutan. Contohnya, seorang pemimpin diharapkan mempunyai watak yang keras dan tegas daripada lemah lembut. Selain itu, untuk menerapkan kelemahlembutan dengan benar, seseorang perlu sungguh-sungguh peka akan pimpinan Roh Kudus dalam kehidupannya.
Lemah lembut dalam bahasa Yunani menggunakan kata prautes. Kata ini dipakai Aristoteles ‒ seorang filsuf berpengaruh di zamannya, dalam tulisannya soal etika. Ia mendefinisikan lemah lembut sebagai jalan tengah di antara dua ekstrim, misalnya antara tidak bisa marah dengan marah berlebihan. Prautes adalah kemampuan untuk memilah dan menempatkan diri dengan tepat di antara dua kondisi ekstrim. Alkitab juga memakai kata ini sebagai bagian dari hikmat, lebih tepatnya tentang bagaimana memperlakukan sesama dengan cara yang tepat (bdk. Tit. 3:2; 2Tim. 2:25).
Salah satu tokoh Alkitab yang memiliki prautes ialah Musa. Perikop bacaan menggambarkan kelemahlembutan Musa. Harun dan Miryam bersekongkol untuk menjatuhkan reputasi Musa di hadapan umat. Mereka mengungkit latar belakang istri Musa yang bukan berasal dari bangsa Israel untuk menjatuhkannya. Yang menarik, Musa tidak menjadi marah, me-lainkan Allah yang marah sehingga Miryam kena tulah (ay. 9-10). Melihat peristiwa ini, Harun meminta Musa untuk berdoa kepada Tuhan agar Miryam dipulihkan (ay. 11-12). Dengan kelemahlembutannya, Musa langsung berdoa bagi Miryam yang sudah dengan sengaja melecehkan dan merusak kepercayaan umat atas dirinya.
Seseorang yang lemah lembut tahu bersikap dengan tepat. Ia bukannya tidak bisa marah, tetapi memilih marah untuk alasan yang tepat dan dengan cara yang benar. Musa dicatat pernah marah, tetapi kemarahannya tidak membuatnya menyakiti ataupun menghancurkan sesama (lih. Kel. 32:19; Bil. 16:15). Janganlah kemarahan Anda melampaui kasih dan kemurahan Anda kepada sesama. Tetaplah menolong dan melayani mereka yang pernah berselisih paham dengan Anda, bahkan yang sengaja melukai Anda. Kunci seseorang dapat sungguh-sungguh menjadi lemah lembut ialah hidup berdasar hikmat Ilahi dan bukan berdasar kehendaknya sendiri.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda sudah menjadi pribadi yang lemah lembut atau seringkali gagal memperlakukan sesama dengan tepat karena emosi sesaat?
- Bagaimana Anda merencanakan hidup berdasar hikmat Allah dan bukan kehendak sendiri?
