Bagikan artikel ini :

Hidup Terbalik

Markus 8:31-38

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
- Markus 8:34

Sebuah wahana wisata populer didesain serba terbalik. Ketika masuk wahana tersebut, kita seakan-akan berjalan di plafon rumah, sedangkan lantai dan seluruh perabotan ada di atas kita. Ini memang unik, tetapi bagaimana kalau di kehidupan nyata ada orang yang merancang rumah seperti itu? Tentu aneh sekali sebab desain rumah seharusnya bukan seperti itu dan sebetulnya tidak akan bisa juga digunakan. Namun, dalam hal mengikuti Tuhan, hidup yang dijalani sering terbalik. Maksudnya terbalik seperti apa?

Ada yang mengajarkan bahwa jika mengikut Tuhan Yesus kita dijanjikan akan lebih kaya secara ekonomi, lebih sukses, punya karier melejit, dan sebagainya untuk diri kita. Jadi, mengikut Yesus hanyalah tentang diri kita. Tidaklah mengherankan kalau ada orang Kristen yang tidak pernah berubah dan berbuah, meskipun sudah belasan atau puluhan tahun mengikut Tuhan. Indikasinya, perkataannya seperti ini, “Saya orangnya memang emosian. Saya ini kalau ngomong memang nyakitin, tapi maksudnya gak gitu!” Sekian lama mengikut Tuhan, tidak ada yang berubah. Ia malah melabelkan dirinya seperti itu. Ini sudah terbalik, pusat hidupnya adalah dirinya sendiri.

Sedangkan Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya menyangkal diri, bukan diri kita lagi yang menjadi pusat. Yesus seharusnya bertakhta di hati kita, yang menggerakkan seluruh kehidupan kita. Ini bukan pilihan, tetapi harus terjadi. Memang bukan terjadi secara otomatis, melainkan melalui proses dan harus dilakukan. Dunia yang jatuh ke dalam dosa telah berjalan abnormal. Orang-orang hanya memusatkan hidupnya pada diri sendiri, tetapi Yesus telah membalikkan keadaan dengan karya penebusan-Nya agar kita kembali normal dalam hidup ini.

Mari sebagai pengikut Kristus, kita menundukkan diri kepada Kristus. Bukan diri kita lagi yang menjadi pusat, hanya Tuhan saja. Kristus sudah menebus kita dan kita sekarang memiliki hidup yang baru. Rasul Paulus berkata kita adalah manusia baru, yaitu manusia yang pusat hidupnya berganti kepada Kristus. Itu yang membuat kita bisa menyangkal diri, karena ada Tuhan. Jadi, jangan terbalik! Tuhan harus jadi pusat, bukan kita.


Refleksi Diri:

  • Dalam hal apa Anda sulit sekali menyangkal diri?
  • Apa yang mau Anda lakukan supaya hidup Anda memusatkan diri pada Kristus?