Hidup Di Tengah Kemajemukan Indonesia
Kisah Para Rasul 17:24-27; Filipi 2:2-7
Dari satu orang (ex henos) saja Ia telah menjadikan (epoiēsen) semua bangsa dan umat manusia (pan ethnos anthrōpōn) untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.
- Kisah Para Rasul 17:26
Di sebuah taman kota, tumbuh beragam bunga berwarna-warni. Merah, putih, kuning, jingga, membentuk sebuah harmoni pemandangan nan indah. Memangkas bungayang warnanya tidak sesuai selera kita akan menjadikan taman jauh dari elok karena hanya ada satu warna yang sama.
Kehidupan bernegara pun terdapat keragaman agama, etnis, budaya, dan sosial ekonomi di sekitar kita. Kita tidak bisa menyamaratakan dan mengultuskan satu golongan tertentu saja. Bagaimanakah sikap kita terhadap kemajemukan masyarakat Indonesia menurut firman Tuhan? Ayat emas memiliki kata kunci yang bisa diuraikan demikian:
- epoiēsen artinya membuat, menjadikan. Menunjukkan tindakan Allah yang sudah selesai dan bersifat final, tetapi berpengaruh sampai hari ini. Hal ini menyatakan bahwa Allah sebagai pencipta, berdaulat atas sejarah.
- ex henos artinya dari satu asal. Menyatakan asal-usul umat manusia dari satu nenek moyang (Adam). Hal ini berkaitan dengan kesatuan umat manusia, juga menyatakan kita semua mewarisi dosa Adam.
- pan ethnos anthrōpōn artinya setiap bangsa manusia tanpa pengecualian, baik dari segi etnis maupun budaya.
Keragaman adalah bagian dari karya Allah. Sayangnya, dosa telah mencemari dunia membuat potensi konflik di sana sini dan tuntut-menuntut sebuah pengakuan bahwa kelompok satu lebih unggul daripada yang lain.
Kita dipanggil menghormati perbedaan tanpa kehilangan jati diri iman kita dengan hidup dalam perdamaian dengan semua orang (Rm. 12:18). Mari bijak dalam berinteraksi untuk menjadi saksi Kristus, artinya kita harus mampu melihat titik temu moral dan kemanusiaan untuk membawa orang mengenal Kristus.
Janganlah rendahkan mereka yang berbeda, melainkan kasihilah mereka. Tidak perlu kita unjuk gigi karena merasa lebih daripada mereka yang berbeda. Menjadi besar haruslah rela menjadi pelayan, seperti Kristus teladan kita (Flp. 2:7). Jika kita memiliki kelebihan dari Allah, artinya kita sedang dituntut lebih, bukan? Apa yang bisa kita lakukan untuk negeri kita yang telah merdeka 81 tahun ini? Ingat tantangan kian berat, kesempatan kian terbatas.
Refleksi Diri:
- Bagaimana Anda bisa hidup dalam perdamaian di tengah kemajemukan masyarakat di sekitar Anda?
- Apa kesaksian yang bisa Anda berikan kepada mereka yang berbeda agama, etnis, dan golongan yang bisa membuat mereka tertarik dengan Kristus Yesus?
