Hidup Adalah Kristus!
Filipi 1:18-22
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
- Filipi 1:21
Banyak orang hari ini mendefinisikan hidup berdasarkan apa yang mereka miliki atau capai. “Hidup adalah jika saya memiliki rumah yang layak.” “Hidup adalah jika karier saya cemerlang.” “Hidup adalah ketika saya punya keluarga yang bahagia.” Pada dasarnya, semua itu tidak salah. Akan tetapi, jika hal-hal tersebut menjadi satu-satunya alasan dan makna hidup maka kita sedang membangun di atas dasar yang rapuh. Ingat, harta bisa lenyap, kesehatan bisa hilang, pencapaian bisa dilupakan, dan relasi pun bisa runtuh. Tak heran banyak orang yang terlihat “penuh”, sebenarnya kosong di dalam, selayaknya gelembung sabun!
Di tengah dunia yang gemar mengejar makna dari luar, Rasul Paulus membuat pernyataan yang tegas dan radikal, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Ungkapan ini bukan sekadar slogan rohani. Paulus menuliskannya dari dalam penjara, dalam kondisi tidak pasti apakah ia akan hidup atau mati. Namun, justru dari ungkapan ini, ia menyatakan inti hidupnya, yakni bukan kondisi, bukan kebebasan, bukan kesuksesan yang ia utamakan, melainkan Kristus. Kata “bagiku” di ayat emas, menunjukkan ungkapan ini bukan pandangan umum, melainkan keyakinan pribadi yang mendalam. Sementara kata “hidup adalah Kristus” bukan hanya berarti melayani Kristus, tetapi bahwa seluruh eksistensinya—pikiran, motivasi, tujuan, sukacita—berpusat kepada Kristus.
Mengapa ini penting? Karena hidup yang berpusat pada Kristus tidak tergantung pada keadaan. Yesus memberi makna ketika segala sesuatu terasa sia-sia. Dia menjadi terang saat jalan hidup terasa gelap. Bahkan kematian pun, dalam terang Kristus, bukan kehilangan, tetapi keuntungan.
Perlu diingat bahwa Yesus tidak hanya datang untuk menyelamatkan kita, tetapi juga untuk menjadi pusat hidup kita. Ketika Kristus menjadi segalanya, kita tidak lagi hidup demi hal-hal fana. Kita belajar melihat hidup sebagai kesempatan untuk mencintai, melayani, dan memuliakan-Nya, sekalipun melalui penderitaan dan kesulitan. Jika Kristus menjadi yang utama dalam hidup, kita tidak perlu khawatir pada krisis apa pun sebab kita tahu ke mana kita pergi setelah kematian, yaitu ke tempat Bapa di sorga melalui karya Kristus. Kebenaran inilah yang membuat Paulus dapat berkata, sekalipun maut menjemput, itu bukan sebuah kemalangan melainkan keuntungan!
Refleksi Diri:
- Apa yang selama ini menjadi pusat hidup Anda: Kristus atau hal-hal yang Anda miliki dan capai?
- Jika Anda kehilangan semua yang Anda punyai hari ini, apakah Anda masih bisa berkata, “Hidupku tetap berarti”?
