Hanya Tidak Dengan Segenap Hati
2 Tawarikh 25:1-10
Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
- Ulangan 10:12
Bayangkan jika anak Anda, dengan uang jajan yang Anda berikan kepadanya, membeli rokok atau barang-barang berbahaya lain. Anda kemudian memarahinya dan menyuruhnya membuang rokok tersebut. Bukannya mendengarkan, ia malah memelas dan bertanya, “Bagaimana dengan sepuluh ribu perak yang kupakai untuk membeli rokok itu?” Tentu Anda akan marah. “Papa bisa kasih lebih dari itu buat kamu!”
Itulah gambaran apa yang dilakukan Amazia. Ia melakukan hal yang benar di mata Tuhan (ay. 2). Ia juga berusaha memperkuat militernya, tetapi dengan cara yang salah. Ia merekrut pasukan dari Israel Utara, padahal Tuhan tidak berkenan kepada bangsa penyembah berhala ini (ay. 7). Bagaimanapun, kerajaan Israel Utara sudah tenggelam begitu dalam penyembahan berhala, apalagi sesudah pemerintahan Ahab. Berkali-kali sejak zaman Yosafat, Tuhan menunjukkan bahwa kerajaan Yehuda Selatan tidak boleh berhubungan dengan Israel Utara. Akan tetapi, masih saja Amazia melanggar. Sudah begitu, ketika diperingatkan oleh seorang nabi, bisa-bisanya ia menjawab dengan pertanyaan bodoh, “Bagaimana dengan seratus talenta yang telah kuberikan kepada pasukan-pasukan Israel itu?” Sang nabi langsung menyahut, “TUHAN dapat memberikan lebih dari pada itu kepadamu!” (ay. 9).
Mengapa Amazia melakukan semua blunder (KBBI: kesalahan serius yang disebabkan oleh kebodohan, kecerobohan atau kelalaian) ini? Jawabannya tercatat sejak awal, yakni karena ia “tidak segenap hati” menaati Tuhan. Sebenarnya, problem yang sama juga terjadi pada diri orang Kristen masa kini. Di zaman yang serba pragmatis dan materialistis ini, banyak orang Kristen yang sudah lahir baru sekalipun, tetap pilih-pilih dalam menaati hukum Tuhan. Ia menuruti hukum-hukum yang mudah, tetapi dengan banyak dalih membenarkan dirinya ketika melanggar hukum-hukum yang lain. Itulah sebabnya kita melihat banyak ayah sekaligus aktivis gereja yang baik, tetapi melakukan korupsi dalam pekerjaannya. Sebaliknya, ada juga orang yang sukses dan bersih dalam kiprahnya, tetapi keluarganya kacau balau.
Ketika memutuskan untuk mengikut Tuhan, Dia menghendaki kita untuk menyerahkan seluruh aspek hidup kita kepadanya. Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang pragmatis, taat hanya kalau gampang saja!
Refleksi Diri:
- Apakah ada satu atau lebih aspek hidup Anda yang tidak sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan? Apa itu dan mengapa Anda kesulitan menaati Tuhan dalam aspek tersebut?
- Apa langkah konkret yang dapat Anda lakukan untuk dapat menyerahkan keseluruhan hidup Anda kepada Tuhan dan taat sepenuhnya kepada firman-Nya?
