Bagikan artikel ini :

Habis Terang Terbitlah Gelap Lagi

2 Tawarikh 24:1-19

Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu.
- Amsal 6:20

 

Kita telah melihat bagaimana Tuhan bekerja lewat Yosabat untuk menyelamatkan Yoas, anak Ahazia, dari pembantaian yang dilakukan Atalya. Kita juga melihat bagaimana Tuhan memakai Imam Yoyada, suami Yosabat, untuk memimpin kudeta. Namun yang paling utama, kita melihat bagaimana Tuhan memakai Yoyada dan Yosabat, sepasang suami istri yang saleh, untuk mendidik Yoas. Karena itu, Yoas menjadi raja yang baik (ay. 2), berbeda dengan kakek, ayah, dan neneknya. Yoas memperbarui ibadah kerajaan Yehuda Selatan yang telah lama dinista oleh penyembahan kepada dewa-dewi palsu di masa pemerintahan Yoram, Ahazia, dan Atalya. Ia bagaikan terang yang dinantikan sesudah gelap.

 

Hanya saja, Alkitab membubuhkan keterangan pendek, “selama hidup imam Yoyada”. Habis terang terbitlah gelap lagi. Beberapa pemimpin yang fasik datang kepada Yoas (ay. 17) sesudah kematian Yoyada. Lihatlah apa permohonan mereka di ayat selanjutnya, yakni supaya diperbolehkan kembali melakukan penyembahan berhala seperti di zaman raja-raja sebelumnya. Bodohnya, Yoas memenuhi permintaan tersebut, bahkan mengabaikan nabi-nabi yang Tuhan utus (ay. 19).

 

Tragis memang apa yang dialami Yoas. Akan tetapi ingatlah, ia menjadi raja ketika berumur tujuh tahun (ay. 1). Pemerintahannya berjalan dengan baik karena ia memiliki Yoyada, ayah angkat sekaligus penasihat kerajaan. Bahkan istri pun dicarikan oleh Yoyada (ay. 3)! Ketika Yoyada mati, Yoas tentunya kehilangan arah. Kita bisa membayangkan melalui gaya bahasa dalam ayat 17, para pemimpin fasik ini datang kepada Yoas ketika ia masih bersedih, kemudian membujuk dan merayu-rayu sampai Yoas luluh.

 

Di zaman sekarang, Yoas mirip dengan anak yang sejak kecil sudah ke gereja. Ia rajin pelayanan semasa remaja. Namun, ketika ia keluar dari rumah, kuliah di luar negeri atau orangtuanya meninggal, ia tidak lagi ke gereja bahkan meninggalkan imannya. Seringkali fenomena ini dianggap 100% kesalahan orangtua. “Kalau anaknya seperti itu, pasti salah orangtuanya.” Siapa bilang? Kisah Yoas dengan jelas menunjukkan bahwa ketika anak sudah dewasa, keputusan-keputusannya sudah di luar kontrol orangtuanya.

 

Jika kisah Ahazia adalah teguran bagi suami dan kisah Atalya teguran bagi istri, maka kisah Yoas adalah bagi anak-anak. Sebagai anak, janganlah kita seperti Yoas yang melupakan warisan iman yang telah ia terima.


Refleksi Diri:

  • Apakah iman yang sekarang Anda pegang merupakan warisan dari orangtua? Apa yang membuat Anda setia memegang warisan iman tersebut sampai hari ini?
  • Jika dibandingkan dengan masa kecil Anda, apakah kerohanian Anda makin bertumbuh ataukah makin serong seperti Yoas?