Bagikan artikel ini :

Dua Telinga, Satu Mulut

Amsal 18:13

Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.
- Amsal 18:13

Sebuah stereotype mengatakan bahwa wanita berbicara 5x lebih banyak daripada pria. Namun, banyak riset telah membuktikan sebaliknya: wanita hanya berbicara sebanyak 15% di dalam diskusi dengan pria. Yang lebih menarik lagi, sebuah riset yang dilakukan oleh Don H. Zimmerman dan Candace West menunjukkan bagaimana dalam sebuah percakapan antara 10 pasang pria dan wanita, terjadi 48x interupsi dimana 46x dilakukan oleh pria!

Tentu saja, poin saya bukanlah untuk mempertentangkan mana yang lebih baik antara pria dan wanita. Poin saya adalah menunjukkan sebuah tendensi yang sering kita lakukan, yakni menyela pembicaraan. Mengapa kita melakukannya? Ada bermacam-macam alasan. Mungkin kita merasa lebih banyak tahu dibandingkan lawan bicara kita. Mungkin kita merasa sudah mengerti apa yang akan disampaikan lawan bicara kita. Mungkin kita merasa lawan bicara berkata-kata hanya dengan emosi belaka sehingga perkataannya tidak ada harganya untuk didengarkan.

Raja Salomo mengatakan bahwa kita yang suka menyela pembicaraan orang lain adalah orang bodoh. Ingat, Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan satu mulut. Apa bedanya orang yang tidak mau mendengar perkataan orang lain dengan orang tuli? Itulah sebabnya Salomo menyebut kebiasaan menyela pembicaraan sebagai cela bagi seseorang.

“Tapi, dia cuma bocah yang tidak tahu apa-apa!” “Tapi, dia cuma orang tua yang bahkan tidak bisa menggunakan internet!” “Tapi, istriku hanya berbicara dengan emosi saja!” Siapa bilang? Jangan-jangan kita yang sok tahu, padahal orang lain lebih mengerti daripada kita. Kalaupun Anda memang lebih tahu banyak atau lebih logis dan tidak emosional seperti lawan bicara Anda, Anda tetap perlu mendengar tanpa menyela perkataannya. Mengapa? Pertama, Anda menunjukkan penghargaan terhadap lawan bicara Anda dan berusaha memahami perasaannya. Kedua, Anda dapat memberi respons yang lebih tepat. Ketiga, Anda belajar untuk sabar. Keempat, dan yang terpenting, mungkin lawan bicara Anda memang tidak ingin mendengar jawaban Anda karena ia hanya ingin semata-mata didengarkan. Inilah yang biasanya terjadi dalam percakapan antar suami-istri, bukan?

Cobalah mendengarkan dengan baik dan seksama sampai lawan bicara Anda selesai bicara. Niscaya komunikasi Anda akan menjadi lebih baik.


Refleksi Diri:

  • Coba amati gaya percakapan Anda. Seberapa sering Anda menyela pembicaraan orang? Mengapa Anda melakukannya?
  • Apa langkah praktis yang dapat Anda lakukan supaya menjadi pendengar yang baik dan tidak menyela orang seenaknya?