Bagikan artikel ini :

Diselamatkan Oleh Pengharapan

Roma 8:18-25

Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
- Roma 8:24-25

Apakah Anda pernah merasa frustrasi karena kehidupan Anda sebagai orang Kristen tak semudah seperti yang dibayangkan? Mungkin Anda berharap setelah percaya Yesus dan menjadi murid-Nya, hidup akan menjadi lebih mudah, masalah akan terselesaikan dengan cepat, dan berkat akan datang bertubi-tubi. Kenyataannya, kehidupan orang Kristen seringkali penuh dengan pergumulan yang membuat kita bertanya-tanya, “Bukankah seharusnya hidup anak-anak Tuhan menjadi lebih baik?”

Roma 8:24-25 memberikan perspektif yang mengejutkan tentang keselamatan. Paulus berkata bahwa “kita diselamatkan dalam pengharapan”. Ini bukan berarti keselamatan kita belum pasti, tetapi menunjukkan bahwa aspek keselamatan yang kita alami sekarang masih dalam proses menuju kesempurnaan. Kita sudah diselamatkan (past tense), saat ini terus diselamatkan (present continuous), dan akan diselamatkan sepenuhnya (future tense). Kita hidup di antara “yang sudah” dan “yang belum.” Kita sudah diselamatkan dari hukuman dosa, tetapi belum sepenuhnya terbebas dari kehadiran dosa. Kita sudah menjadi anak-anak Tuhan, tetapi belum melihat kemuliaan-Nya secara muka dengan muka. Kita sudah memiliki kehidupan kekal, tetapi belum mendapatkan tubuh kemuliaan (masih hidup dalam tubuh yang fana).

Rasul Paulus selanjutnya menekankan bahwa “pengharapan yang dilihat bukanlah pengharapan”. Jika kita sudah melihat seluruh rencana Tuhan, sudah mengalami semua berkat-Nya, dan sudah tidak mengalami penderitaan lagi, maka kita tidak membutuhkan pengharapan. Pengharapan sejati justru diperlukan ketika kita belum melihat hasil akhir yang dijanjikan Tuhan.

Inilah yang membedakan pengharapan kita di dalam Kristus dan pengharapan di luar Kristus. Kita tidak berharap pada sesuatu yang ilusif, tetapi pada janji Tuhan yang sudah mulai dan pasti akan digenapi sepenuhnya. Seperti wanita hamil yang menahan sakit karena tahu bahwa kehidupan baru sedang bertumbuh dalam rahimnya, kita bertahan dalam pergumulan hidup karena tahu bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar dalam hidup kita.

Seperti ayat emas yang ditutup dengan kata “tekun”, teruslah tekun berjuang, tekun melayani, dan tetap percaya meskipun belum melihat hasil akhir yang dijanjikan. Pengharapan Kristus akan selalu memberi kita kekuatan untuk menghadapi pergumulan kehidupan.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana Anda dapat tekun menjalani hidup ketika Tuhan tampaknya tidak menjawab doa Anda sesuai harapan?
  • Apa yang dapat Anda lakukan untuk menguatkan pengharapan Anda pada janji-janji Tuhan yang belum Anda lihat digenapi?