Dilupakan Manusia, Tidak Dilupakan Tuhan
2 Raja-raja 24:8-17; 25:27-30
Dia yang mengingat kita dalam kerendahan kita; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
- Mazmur 136:23
Kita telah melihat bagaimana Zedekia, raja terakhir Yehuda Selatan, menyebabkan keruntuhan kerajaan tersebut. Namun sebenarnya, ada satu figur yang kita lewatkan, yakni Yoyakhin, anak dari Yoyakim. Sesudah Yoyakim mati, Zedekia tidak langsung menggantikannya. Yoyakhin sempat memerintah hanya selama tiga bulan (24:8), sebelum ia kemudian diangkut dan dibuang ke Babel, beserta seluruh keluarga dan pegawai istananya (24:15).
Saat menyusun renungan ini, saya melewatkan Yoyakhin dengan sengaja karena pikir saja, ah, ini raja yang tidak penting. Ia tidak punya pencapaian apa pun atau kisah menarik yang layak diceritakan. Lupakan saja Yoyakhin. Mungkin, ini juga yang menjadi pemikiran orang-orang pada zamannya. Rakyatnya mungkin berpikir, ah, dia sudah dibuang ke Babel dan sekarang kita mendapat raja baru yaitu Zedekia. Lupakan saja Yoyakhin. Musuh-musuh Yoyakhin, Nebukadnezar dan prajurit Babel mungkin juga berpikir yang sama, ah, ia sekarang sudah bukan lagi ancaman bagi Babel. Lupakan saja Yoyakhin. Semua orang melupakannya.
Akan tetapi, benarkah demikian? Ya, semua orang melupakan Yoyakhin, tetapi Tuhan tidak. Sebuah cacatan kecil di 2 Raja-raja 25:27-30 merupakan buktinya. Coba bayangkan jika Anda adalah Yoyakhin. Selama 37 tahun dibuang di Babel dan hidup di penjara. Tidak ada yang peduli pada Anda dan nama Anda seolah tercoret dari sejarah. Tahu-tahu raja Babel membebaskan Anda dari penjara, mengajak Anda makan (ay. 29), menyediakan keperluan Anda sehari-hari (ay. 30), bahkan memberi Anda kedudukan lebih tinggi dari raja-raja taklukan lainnya (ay. 28). Kalau bukan karena Tuhan mengingat Yoyakhin, mustahil ini terjadi.
Demikian pula kita. Seringkali kita merasa kecil dan tidak ada yang mengingat kita. Entah seberapa kerasnya kita bekerja, tidak ada yang memberi apresiasi apalagi promosi. Bagi para ibu rumah tangga, kita mungkin merasa usaha kita di rumah tidak dihargai. Bagi kita yang sedang tergeletak lemah seorang diri di rumah sakit, kita merasa sendirian tanpa ada yang menjenguk. Atau rekan-rekan kita mungkin lupa memberi ucapan selamat ulang tahun kepada kita, entah sengaja atau tidak.
Yoyakhin, si raja jahat yang mendekam di penjara 37 tahun, tidak dilupakan. Bahkan penjahat yang nyaris mati saja tidak dilupakan oleh Tuhan Yesus (Luk. 23:42-43). Manusia bisa melupakan kita, tetapi Tuhan tidak.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah atau sedang merasa dilupakan, baik jasa-jasa Anda maupun pribadi Anda sendiri? Bagaimana perasaan Anda?
- Bagaimana kisah tentang Yoyakhin yang tidak dilupakan Tuhan sesudah 37 tahun dipenjara menjadi penghiburan bagi Anda?
