Dihajar Tuhan
2 Tawarikh 33:10-20
karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
- Ibrani 12:6
Jika Anda sering membaca novel-novel silat zaman dulu, Anda akan menemukan adegan si jagoan berseru kepada si tokoh jahat bahwa ia harus “dihajar adat”, sebelum kemudian baku hantam dan benar-benar menghajar musuhnya. Sayangnya, alih-alih kapok, si musuh tetap saja melanjutkan kejahatannya. Jadi, kalau “dihajar adat” tidak mempan, bagaimana kalau “dihajar Tuhan”? Sebagaimana kita lihat di bagian ini, hajaran Tuhan membuat Manasye jera.
Kita telah membaca sebelumnya betapa jahatnya Manasye. Sayang sekali, catatan mengenai Manasye di Kitab Raja-raja tidak begitu lengkap sehingga kita mendapat kesan bahwa Manasye tidak pernah bertobat seumur hidupnya. Namun, bagian paralel di kitab Tawarikh yang kita baca hari ini mengatakan bahwa Manasye bertobat sesudah ia mengalami pembuangan di Asyur (ay. 11-13). Ketika ia dipulangkan dan dipulihkan kedudukannya, ia membuang segala berhala-berhala asing dan memperbaiki bait Allah (ay. 15-16). Benar-benar perubahan yang sangat drastis. Semua karena Tuhan telah menghajarnya.
Kadang kala, Tuhan perlu menempeleng seseorang dengan keras supaya orang itu bertobat. Mungkin ada orang-orang yang kita kasihi di sekeliling kita yang hidup dalam dosa, entahkah pasangan yang hidup mendua hati, anak yang enggan bekerja, orangtua yang tidak menjaga kesehatan tubuhnya dengan asupan gizi dengan baik, rekan yang melakukan kecurangan dalam bisnis, dan lain sebagainya. Kita telah mencoba menegur mereka, bahkan meminta bantuan pihak ketiga untuk berbicara. Namun, sama seperti Manasye, tetap saja ia tidak bertobat. Pada akhirnya tidak ada jalan lain selain menyerahkannya pada hajaran Tuhan.
Tentu, kita sedih jika orang yang kita kasihi mengalami hajaran Tuhan. Namun, biarlah Tuhan bekerja. Itu berarti Tuhan mengasihi orang tersebut jauh lebih daripada Anda mengasihinya dan hikmat-Nya jauh melampaui hikmat Anda. Hal sebaliknya juga berlaku. Jika kita hidup di dalam dosa maka jangan komplain jika Tuhan sampai menghajar kita.
Ingat, Tuhan kita, Yesus Kristus, telah membuktikan kasih-Nya di atas kayu salib bagi kita. Jadi, melewati hajaran seberat apa pun, percayalah bahwa Tuhan melakukannya bukan untuk menghukum, tetapi untuk mendisiplin kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda atau seseorang yang Anda kasihi sedang mengalami hajaran Tuhan? Bagaimana bentuknya? Apa disiplin yang Tuhan berikan?
- Apakah hajaran Tuhan membuat Anda atau orang tersebut kapok dan bertobat?
