Bagikan artikel ini :

Diam Yang Menggema

Yesaya 30:15-17

… dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.
- Yesaya 30:15b

Dalam dunia modern yang bising dan penuh hiruk-pikuk, keheningan seringkali dianggap sebagai suatu keanehan dan kelemahan. Dunia yang menuntut keberhasilan dan pencapaian, mengganggap keheningan sebagai tanda ketidakberdayaan ataupun kegagalan. Namun dalam perspektif Alkitab, diam bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi justru menjadi sesuatu yang bermakna, bahkan merupakan kekuatan yang dalam dan membangkitkan.

Di dunia musik, dikenal satu simbol penting yang justru bukan nada, yakni tanda diam atau rest. Tanda ini bukan kesalahan, tetapi bagian dari komposisi. Komposer besar Beethoven dalam karya Simfoni No 5 in C minor menaruh keheningan di tengah denting nada. Tanda diam bisa menciptakan ketegangan emosional dan makna yang lebih dalam daripada nada suara itu sendiri. Diam, jika pada tempatnya, bisa lebih keras daripada suara! Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani.

Firman Tuhan dalam Yesaya 30:15 berkata bahwa dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan. Kondisi ini bukan kondisi diam karena menyerah, melainkan diam penuh percaya. Diam bukan berarti pasif karena putus asa atau kelelahan dan kehabisan tenaga. Diam adalah tindakan aktif karena bersandar kepada Tuhan, mendengarkan suara-Nya, menghayati firman-Nya, dan memercayai segala janji penyertaan-Nya. Diam seperti ini adalah keheningan penuh iman, tempat di mana jiwa berhenti melawan dan mulai percaya bahwa Allah tetap bekerja dalam segala kondisi.

Kadang, jawaban Tuhan atas pergumulan atau doa-doa kita bukanlah “ya” atau “tidak”, melainkan “diam dulu”—dan dalam waktu hening tersebut, iman kita justru sedang diuji dan dikuatkan. Karena itu, diam bukanlah akhir dari cerita, melainkan jeda untuk memercayai Allah sedang menulis “bab-bab kehidupan” kita selanjutnya yang pasti berakhir dengan indah dan damai.

Hari ini, ketika dunia mendesak kita untuk bereaksi cepat, berteriak keras, dan menjawab semua hal secara instan, barangkali Tuhan justru mengundang kita untuk diam yang mengakar, diam yang menyembah, diam yang menggema. Di dalam keheningan semacam ini kita dapat mengatur ritme kehidupan kita lagi, bukan karena diburu oleh waktu dan pencapaian, melainkan karena kita tahu kepada siapa kita percaya. Soli Deo Gloria.


Refleksi Diri:

  • Apakah keheningan dalam hidup Anda akhir-akhir ini adalah karena Anda menyerah atau karena sedang belajar percaya kepada Tuhan?
  • Dalam hal apa Anda perlu belajar “diam yang menggema”—yaitu diam yang memercayakan kendali hidup kepada Tuhan?