Bagikan artikel ini :

Diam Dan Dengarkan Suara Tuhan

Mazmur 46:8-12

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!
- Mazmur 46:11a

Di era digital yang serba cepat dan bising ini, diam menjadi sesuatu yang langka. Notifikasi tak henti berdenting, jadwal dipenuhi janji, dan pikiran terus berputar. Kita sering kali terjebak dalam kesibukan, bahkan dalam aktivitas rohani, sampai lupa satu hal penting, yakni berdiam diri di hadapan Allah.

Mazmur 46 adalah undangan surgawi untuk stop, sunyi, sadar siapa Tuhan sebenarnya dan siap mengandalkan Dia selamanya. Mazmur 46 ditulis dalam konteks kekacauan‒gempa bumi, perang, ketakutan. Di ayat 8-12 ditegaskan bahwa Tuhan adalah penguasa atas segala bangsa dan alam semesta yang kacau. Dia menghentikan peperangan, mematahkan senjata, dan memerintahkan umat-Nya untuk diam dan mengenal bahwa Dialah Allah yang ditinggikan di atas segala bangsa. Umat Tuhan diingatkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari usaha manusia, tetapi dari kehadiran Allah yang menopang dan melindungi umat-Nya dengan kuasa dan damai-Nya yang melampaui kekacauan. Di tengah kondisi tersebut, Tuhan memanggil umat-Nya untuk diam dan mengenal Dia. Dalam bahasa Ibrani, kata “diam” (harpu) berarti menyerah, melepaskan, berhenti berjuang sendiri. Ini bukan tindakan pasif, melainkan aktif menyerahkan kendali kepada Tuhan. Diam bukan sekadar tidak bicara, tetapi membuka hati dan telinga rohani untuk mendengar suara Tuhan.

Reformator Martin Luther melihat ayat emas sebagai panggilan bagi umat untuk berhenti dari kekhawatiran dan percaya penuh pada kedaulatan Allah yang melampaui kekuatan manusia. Teolog John Calvin menekankan bahwa ayat di atas menyatakan kehadiran dan karya Allah yang aktif menghentikan kekacauan bangsa-bangsa. Damai sejati hanya datang dari pemerintahan Allah yang adil dan perkasa, bukan dari kekuatan militer manusia. Kedua tokoh ini sepakat bahwa Mazmur 46 adalah undangan untuk mengandalkan Tuhan di tengah dunia yang kacau. Itu bisa terjadi ketika kita menenangkan jiwa dan berelasi intim dengan Tuhan.

Di tengah kebisingan dunia, hendaklah kita diam sejenak mendengar suara Tuhan yang memanggil dari dekat. Janganlah kegelisahan dan kesibukan kita menutupi suara-Nya. Dalam keheningan, belajarlah menemukan kepuasan tertinggi di dalam-Nya. Sediakan waktu 10-15 menit hari ini untuk benar-benar diam di hadapan Tuhan, tanpa musik, gawai atau gangguan sekeliling. Tuliskan dalam jurnal apa yang Tuhan sampaikan melalui saat hening di hadapanNya. Berilah ruang bagi suara Tuhan mulai hari ini.


Refleksi Diri:

  • Apa saja “keributan”, entah kekhawatiran, kesibukan, ambisi pribadi, yang membuat Anda sulit untuk diam dan mengenal bahwa Tuhan adalah Allah?
  • Apa langkah konkret yang bisa Anda ambil untuk menyediakan waktu diam di hadapan Tuhan dan membiarkan Dia berbicara di dalam hati Anda?