Bagikan artikel ini :

Di Luar Tembok, Ada Apa? Apa Ada?

2 Korintus 5:11-19

Sebab itu kami tidak lagi menilai (oidamen) seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.
- 2 Korintus 5:16

Di luar tembok megah gereja, ada banyak pergolakan sosial politik. Ada banyak ketidakadilan, berjibun mereka yang terbelakang, dan seabrek masalah yang tak kunjung selesai di negeri ini. Ada apa dengan negeri kita? Bagaimana sikap kita? Apakah hanya sinis karena merasa semua itu bukan urusan kita? Adakah kepedulian, setidaknya kita sisipkan di dalam pokok doa syafaat untuk masa depan negeri kita?

Di tengah kemajemukan dan kompleksitas masyarakat Indonesia, apakah kita harus bersikap inklusif atau eksklusif? Inklusif adalah sikap terbuka dimana kita masuk dalam kemajemukan tersebut tanpa kehilangan identitas diri. Sementara ekslusif cenderung menutup diri terhadap kemajemukan dan lebih merasa aman jika hanya berada di dalam kelompok yang sama.

Rasul Paulus membedakan cara menilai sesama manusia antara sebelum dan sesudah bertemu Tuhan Yesus. Kata bahasa Yunani yang dipakai oidamen akar kata oida, artinya sewajarnya melihat (to properly see). Cara menilai dan melihat manusia di masa Paulus hidup adalah bangsa Yahudi dianggap lebih tinggi daripada bangsa lain. Namun, setelah bertemu Tuhan Yesus, terjadi perubahan konkret bahwa semua bangsa dapat memperoleh anugerah Allah, yakni mereka yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai penggenapan perjanjian Allah. Baik Yahudi, Yunani dan berbagai bangsa di dunia, semua dinilai sama oleh Allah. Mereka semua dikasihi Tuhan dan yang percaya kepada-Nya disebut sebagai anak-anak Abraham.

Sebagai orang percaya di zaman ini, mari kita sadari, Allah sedang menempatkan kita masuk ke tengah dunia dengan berbagai kemajemukan dan tantangan di dalamnya. Kerap terjadi khususnya di luar tembok gereja, misalnya di area sosial politik, kita terbiasa hanya mau “terima jadi” siapa calon pemimpin kita nanti. Kita seolah tidak peduli karena semua itu dianggap bukan urusan rohani dan kita merasa aman nyaman di balik kokoh dan megahnya tembok gereja kita.

Tuhan telah menitipkan talenta lebih, apa yang bisa kita jangkau dengan kedua tangan kita yang terbatas ini? Maukah kita berperan serta membangun negeri ini? Ada apa dengan kita? Untuk apa kita ada di tengah masyarakat Indonesia? Mari berperan serta sesuai panggilan-Nya.


Refleksi Diri:

  • Apa talenta yang bisa Anda manfaatkan dan peran yang bisa Anda jalankan untuk membangun negara Indonesia?
  • Jika Anda belum terpikirkan mengenai peran Anda dalam membangun negeri ini, apakah Anda sudah mendoakan Indonesia?