Debat Kusir
Amsal 26:4-5
Jangan berbicara di telinga orang bebal, sebab ia akan meremehkan kata-katamu yang bijak.
- Amsal 23:9
Kedua ayat bacaan yang Anda baca hari ini mungkin membuat Anda bingung. Kok sepertinya Alkitab berkontradiksi? Di ayat 4, kita dilarang menjawab orang bebal. Di ayat 5, kita justru disuruh untuk menjawab orang bebal menurut kebodohannya. Jadi, mana yang harus dilakukan?
Sebenarnya, ayat ini tidak perlu ditafsirkan susah-susah. Kita disuruh untuk tidak menjawab dan menjawab menurut kebodohannya. Coba pikirkan, apa hal yang tidak disuruh oleh Alkitab? Jawabannya, kita tidak disuruh menjawab dengan kata-kata bijak! Jadi, maksud dari ayat ini adalah ketika berhubungan dengan orang bebal, kita boleh memilih merespons dengan mendiamkannya atau dengan menjawab menurut kebodohannya. Yang tidak disuruh untuk dilakukan adalah menjawab menurut kebijaksanaan. Penafsiran ini sesuai dengan Amsal 23:9 yang memberikan alasan kenapa kita tidak perlu menjawab orang bebal dengan kata-kata bijak karena mereka akan meremehkannya.
Anda tentu pernah mengalami hal demikian. Anda berusaha menyampaikan kebenaran atau saran yang baik. Apa yang dilakukan si bebal? Bukannya mendengarkan, ia sama sekali tidak mengindahkan, bahkan mungkin menyanggah Anda, berdalih, menertawakan, dan menghina Anda. Akhirnya, niat baik Anda disia-siakan menjadi sebuah debat kusir yang tidak berguna. Itulah alasannya Salomo menasihati kita untuk memilih, entahkah dengan mendiamkan orang bebal tersebut atau menjawabnya dengan kebodohannya saja. Toh si bebal tidak akan menerima kebijaksanaan Anda.
Tuhan Yesus pun melakukan hal demikian. Ketika Dia berhadapan dengan orang Farisi yang menanyainya asal-usul kuasa-Nya, Yesus balik bertanya mengenai asal-usul baptisan Yohanes (Mat. 21:23-27). Yesus tahu orang-orang bebal tersebut tidak akan bisa diajari kebenaran, jadi Dia menjawab menurut kebodohan mereka. Di sisi lain, pada saat diadili, Tuhan Yesus hampir selalu mendiamkan pertanyaan-pertanyaan mereka. Percuma saja orang-orang bebal ini diberitahukan kebenaran karena mereka sengaja menulikan telinga.
Biarlah ini pun menjadi pelajaran bagi kita. Jangan terjebak dalam debat kusir yang tidak ada habisnya. Cukup beritahukan apa yang benar. Jika ia tetap bebal, cukup diamkan atau jawab santai dengan kelakar saja. Tidak perlu emosi dan ngotot.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah terlibat sebuah debat kusir dengan orang bebal saat berusaha memberitahukan hal yang baik dan benar kepadanya? Apa yang membuat Anda terlibat dalam situasi demikian?
- Bagaimana seharusnya Anda bersikap ketika ada orang bebal yang tidak mau mendengarkan Anda berdasar nasihat Amsal Salomo di atas?
