Bagikan artikel ini :

Darah Lebih Kental Dari Air

2 Tawarikh 11:1-17

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
- Mazmur 133:1

 

Kita telah melihat bagaimana keputusan bodoh Rehabeam menyebabkan pemberontakan dan perpecahan kerajaan. Rehabeam kemudian berniat untuk menyerang ke sepuluh suku Israel yang memberontak tersebut. Namun, ia mengurungkan niatnya ketika Tuhan melarangnya (ay. 4). Ini aneh sekali! Bukankah Tuhan yang menghendaki perpecahan tersebut? Lantas sekarang kenapa Dia mencegah penyerangan yang hendak dilakukan Rehabeam?

 

Jawabannya karena tidak peduli konflik apa pun yang terjadi, Tuhan sangat menghargai persaudaraan sedarah. Ayat 4 bukan menyebutkan “janganlah kamu berperang melawan Yerobeam” atau “janganlah kamu berperang melawan pemberontak-pemberontak itu,” melainkan “janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu.” Tidak hanya itu, Tuhan bahkan membuat beberapa orang Israel yang taat berpindah dari Israel Utara ke Yehuda Selatan, seolah-olah Tuhan rindu untuk mengumpulkan dan menjaga sedikit serpihan-serpihan persaudaraan yang telah terpecah (ay. 13-16).

 

Tidak hanya dalam kasus Yehuda Selatan dan Israel Utara, Tuhan melakukan hal serupa ketika bangsa Israel yang keluar dari Mesir hendak melewati Moab, Amon, dan Edom. Bangsa Moab dan Amon berasal dari Lot yang adalah keturunan Abraham, sementara Edom adalah keturunan Esau yang adalah saudara kembar Yakub. Meski bangsa-bangsa ini sedang berkonflik dengan umat Israel, Tuhan tetap memperingatkan umat-Nya untuk tidak menyerang saudara-saudara mereka ini (Ul. 2:4-5, 9, 18-19).

 

Seiring bertambahnya usia, hubungan kita dengan saudara-saudara sedarah mungkin menjadi makin renggang. Merantau di kota yang berbeda atau kesibukan dengan keluarga inti dan pekerjaan masing-masing menyebabkan kita menjadi orang asing dengan saudara-saudara kita. Lebih-lebih lagi jika terjadi konflik, misalnya konflik warisan, bisnis keluarga, percekcokan antar ipar, dan lain sebagainya. Kedua belah pihak bisa melupakan persaudaraan mereka dan bersikap lebih parah daripada ketika berhadapan dengan musuh. Terlupakan sudah masa kecil saat mereka bermain di taman dengan saudara mereka, pergi ke sekolah bersama, dan saling tolong-menolong dalam berbagai hal.

 

Kisah hari ini mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki agar kita tidak melupakan saudara-saudara kita, yaitu orang-orang yang Tuhan tempatkan di masa kecil untuk saling bertumbuh dan belajar menjadi dewasa. Hari ini, bagi kita yang telah merasakan adanya jarak antara kita dan saudara kita, cobalah menghubungi dan menanyakan kabar mereka. Peliharalah rasa persaudaraan kita.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana keadaan Anda dengan saudara-saudara sedarah Anda? Apakah Anda sedang mengalami konflik atau kerenggangan hubungan? Apa penyebabnya?
  • Apa yang dapat Anda lakukan untuk dapat memelihara tali persaudaraan tersebut?