Bagikan artikel ini :

Damai Tapi Gersang

Amsal 16:31-17:2

Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman (salvah), dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan (rib).
- Amsal 17:1

Adakah damai sejahtera di rumah tangga kita? Ataukah selama ini justru penuh konflik dengan sanak keluarga sendiri, yang menahun dan yang tak terselesaikan? Terasa damai tapi gersang, suasana jauh dari sejuk segar, kian terasa kering kerontang. Penulis Amsal, Raja Salomo, mengungkapkan bahwa sekerat roti kering lebih baik daripada sekerat daging. Mengapa? Dua hal mendasar dari ayat emas adalah kata salvah yang artinya mampu berdamai (peaceable) dan kata rib yang artinya percekcokan rumah tangga (strife). Metafora yang Salomo pakai adalah sekerat roti dan makanan daging. Sekerat roti kering dikaitkan dengan kedamaian, sementara makanan daging dikaitkan dengan konflik keluarga.

Salomo sedang melihat situasi hidup apa adanya di rumahnya. Ia tidak kekurangan apa pun, semua berlimpah ruah, tetapi sarat dengan potensi konflik, bahkan perpecahan. Sejarah mencatat setelah kepemimpinan Salomo terjadilah perpecahan kepemimpinan (930 SM), antara Yerobeam dan Rehabeam, antara umat pilihan Allah menjadi sepuluh suku di Utara (Israel) dan dua suku di selatan (Yehuda). Di lain sisi, Salomo juga melihat kontras kehidupan mereka yang hidup dalam kesederhanaan. Dalam kesederhanaan justru ada damai, ketenangan, dan lebih minim potensi konflik. Mengapa? Karena tidak ada persaingan perebutan kedudukan, tidak ada perebutan makanan ataupun harta. Semua rela saling berbagi, meski mungkin hanya mampu berbagi sedikit dari sekerat roti kering.

Sobat terkasih, sungguh tidak nyaman jika rumah kita dipenuhi konflik, apalagi dengan orang-orang terdekat. Selama ini apakah kita lebih dekat dengan orang serumah atau orang di luar rumah? Kita semua sudah tahu jawabnya jika kita sedang lebih suka di luar rumah, berarti konflik sedang terjadi, menciptakan “perang dingin” ataupun “laga pertarungan secara langsung”. Semua membuat kita tidak betah di rumah.

Ternyata, memang tidak mudah membangun damai sejahtera di rumah kita sendiri, bukan? Mari mulai bangun damai sejahtera. Nyatakan kasih dan berilah pengampunan. Keduanya harus dimulai dari diri kita terlebih dahulu. Kasih dan pengampunan tidak bisa mengubah kenyataan di masa lalu, tetapi mampu membuka masa depan yang penuh harapan.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana suasana rumah Anda selama ini? Apakah Anda lebih betah betah di dalam atau di luar rumah?
  • Apa yang bisa Anda lakukan untuk menjadi pembawa kasih dan pengampunan di dalam keluarga Anda?