Bagikan artikel ini :

Control Freak

2 Tawarikh 22:10-12

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.
- Amsal 14:1

 

Apa gambaran yang ada di benak Anda ketika membayangkan sosok seorang nenek? Mungkin seorang yang menyambut cucu-cucunya dengan hangat, memasak banyak-banyak untuk mereka dengan harapan mereka tumbuh sehat, memberikan perhatian, dan sebagainya. Tidak demikian dengan nenek yang satu ini. Bagian ini mencatat bahwa Atalya, sang ibu suri, membunuh cucu-cucunya sendiri! Hanya satu yang luput, yakni Yoas, yang diselamatkan oleh Yosabat, saudara Ahazia dari ibu yang berbeda.

 

Jika kehidupan Ahazia merupakan peringatan bagi para suami supaya menjadi pemimpin keluarga yang bijak dan tidak lagi bersikap anak mami, maka kisah Atalya adalah peringatan bagi para istri. Tidak ada di antara kita yang menjadi “permaisuri” atau “ibu suri” di sebuah kerajaan, tetapi peran sebagai ibu rumah tangga diatur oleh prinsip-prinsip yang sama.

 

Atalya ingin memegang kekuasaan. Akibatnya, ia membunuh cucu-cucunya. Ini serupa dengan apa yang terjadi ketika seorang istri ingin memegang kekuasaan di dalam keluarganya. Segala sesuatu harus di bawah kontrolnya. Menurut beberapa penelitian, anak-anak yang tumbuh di bawah ibu yang control freak (gila mengatur) seperti ini akan menjadi pribadi yang punya self-esteem (harga diri) rendah, sering meragukan diri, dan kesulitan untuk mengambil keputusan. Ini disebabkan karena ia tidak bisa melepaskan diri dari kontrol ibunya. Jika sudah demikian, tidakkah ini sama saja dengan “mematikan” masa depan anak tersebut?

 

Tentu bukan berarti seorang istri harus selalu “iya-iya saja” dan tidak boleh berpendapat. Sebaliknya, ia tetap harus memiliki jiwa kepemimpinan untuk dapat mendidik anak-anaknya. Poin utama dari renungan ini adalah tiap-tiap anggota keluarga memiliki porsinya masing-masing. Beberapa hal, misalnya seperti menjalankan rumah tangga, berada di bawah pengaturan istri. Beberapa konselor keluarga juga menambahkan budgeting sebagai wilayah istri. Namun, ada hal-hal yang jelas tidak perlu dikontrol olehnya, misalkan jurusan yang ingin ditekuni anak-anak di masa depan, waktu rekreasi suaminya, cara berpakaian mereka, selera estetika rumah, dan sebagainya.

 

Tentu saja suami juga tidak boleh menjadi seorang control freak. Ada hal-hal yang perlu diatur, tetapi ada yang harus dibebaskan. Bagaimanapun, ada banyak hal yang akan menjadi lebih baik justru ketika kita belajar melepaskan kontrol atasnya.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda seorang control freak, khususnya dalam keluarga? Apa hal yang paling sering ingin Anda kontrol? Mengapa?
  • Apa dampak perilaku yang terlalu mengontrol tersebut, baik bagi diri Anda sendiri maupun orang lain?