Bagikan artikel ini :

Cari Dokter Atau Cari Tuhan?

2 Tawarikh 16:11-14

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.
- Yakobus 5:14

 

Deorang dokter ateis mengeluh demikian mengenai orang Kristen, “Orang Kristen itu kalau operasinya berhasil akan berkata, ‘Puji Tuhan!’ Tapi kalau operasinya gagal akan menyalahkan dokternya.”

 

Terlepas dari apakah kritikan ini benar atau tidak, memang mudah bagi kita sebagai orang Kristen untuk jatuh ke satu ekstrem. Di satu sisi, kita dapat menjadi seperti Asa yang hanya datang kepada dokter-dokter tanpa mengandalkan Tuhan. Di sisi lain, kita menolak mencari pertolongan medis karena mengharapkan Tuhan semata. Kalaupun pergi ke dokter, kita mungkin kurang menghargai kerja keras tenaga medis yang telah dipakai Tuhan.

 

Bacaan Alkitab hari ini bukan mengajarkan kita untuk tidak pergi ke dokter. Perlu diingat bagaimana Asa tidak mengandalkan Tuhan ketika mendapat ancaman penyerangan Baesa, melainkan mengandalkan raja asing. Di bagian ini, kita melihat kejatuhan Asa yang makin dalam. Jika sebelumnya ia tidak mengandalkan Tuhan dalam urusan politik, kini bahkan tidak mengandalkan Tuhan dalam urusan kesehatannya sendiri. Jika diibaratkan di masa kini, tingkah Asa adalah seperti orang kaya yang kalang-kabut mencari dokter terbaik ketika menghadapi penyakit. Kepanikan seperti ini bukannya membawa hal yang baik, malah seringkali membuat kita salah mengambil keputusan. Keputusan yang salah membuat penanganan terhadap penyakit menjadi tidak efektif, lama, bahkan berakhir dengan kematian.

 

Surat Yakobus memberi tips bagaimana menjalankan ora et labora atau berdoa dan bekerja secara seimbang. Diawali dengan doa dan dilanjutkan dengan pertolongan medis, yakni pengolesan minyak yang pada waktu itu dipakai sebagai obat-obatan. Selain itu, kehadiran penatua juga untuk memberikan nasihat yang tepat. Jika diterapkan di masa kini, ini berarti orang yang sakit hendaknya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan mencari pertolongan medis dalam keadaan panik, kecuali dalam kondisi darurat. Sebaliknya, ia harus memulai dengan doa dan didampingi rekan-rekan seiman yang dapat memberikan pertimbangan medis serta penghiburan agar ia menjadi tenang. Sesudah itu, barulah dicari langkah-langkah tepat untuk mencari pertolongan medis.

 

Kiranya Tuhan menjamah kita yang saat ini mengalami kelemahan tubuh.


Refleksi Diri:

  • Apakah hari ini Anda sedang mengalami kelemahan tubuh, baik sakit penyakit berat maupun ringan? Siapa yang Anda cari terlebih dahulu dalam kondisi ini, dokter atau Tuhan?
  • Bagaimana respons Anda menghadapi sebuah penyakit?