Cara Penginjilan Rasul Paulus
Kisah Para Rasul 22:1-29
Aku adalah orang Yahudi, ... dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikutpengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.
- Kisah Para Rasul 22:3-4
Banyak orang Kristen ragu untuk menginjili karena merasa dirinya tidak mampu. Mereka merasa tidak punya pengetahuan yang dalam tentang Alkitab atau tidak pandai berbicara. Dalam pelayanan, saya menemukan orang-orang yang takut bersaksi karena khawatir kesaksian mereka bukannya mempertobatkan, malahan menyesatkan. Sementara beberapa yang lain minder karena kurang hafal ayat-ayat Alkitab sehingga merasa belum layak untuk memberikan kesaksian.
Padahal jika melihat keseluruhan Alkitab, terutama dalam Kisah Para Rasul, kita bisa melihat cara utama Rasul Paulus menginjili amatlah sederhana. Paulus menginjili bukan dengan rangkaian kata-kata indah dan menarik untuk didengar ataupun dengan logika dan pengetahuan Alkitab yang memukau. Cara Paulus bersaksi adalah dengan menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Tuhan. Bagaimana dahulu ia sebagai Farisi taat, seorang penganiaya jemaat, diubahkan 180° setelah perjumpaan dengan Yesus di jalan ke Damaskus (ay. 6-11).
Perikop hari ini juga menceritakan bagaimana Paulus terancam hidupnya karena diamuk massa yang terprovokasi orang Yahudi yang menginginkan kematian dirinya (ay. 22-24), tetapi ia tetap memilih untuk mengikuti jalan Tuhan. Pertemuan secara pribadi dengan Yesus yang bangkit telah mengubahkannya. Tuhan bahkan memilih dan mengutusnya berkarya kepada bangsa-bangsa lain yang belum mengenal Allah (ay. 21).
Kita tidak butuh kepandaian berbicara untuk bisa dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya bagi mereka yang belum percaya. Cara-cara sederhana bisa Tuhan pakai untuk mempertobatkan banyak jiwa. Pengalaman kita berjumpa secara pribadi dengan Tuhan dan pengalaman pertobatan kita, bisa menjadi modal utama untuk bersaksi. Tentu kesaksian itu perlu didukung koridor ajaran yang benar. Paulus sekalipun memiliki ilmu agama yang banyak, memilih memakai kisah pertobatannya sebagai senjata utama yang selalu dipakainya untuk bersaksi.
Hari ini, tugas kita sebagai orang percaya adalah bersaksi, selanjutnya Roh Kudus yang memberi pertobatan. Kesaksian yang efektif bukan datang dari kata-kata indah, melainkan dari pengalaman kita berjumpa dengan Yesus yang bangkit yang mengubahkan hidup kita menjadi diri kita yang sekarang.
Refleksi Diri:
- Apa hambatan utama Anda untuk bersaksi? Apakah Anda sudah menceritakan pengalaman hidup Anda sendiri sebagai kesaksian Anda?
- Siapa orang-orang yang ingin Anda ceritakan pengalaman Anda berjumpa Yesus Kristus dan menjadi percaya kepada-Nya?
