Buruk Sangka
2 Raja-raja 18:17-25
Jangan mengintai kediaman orang benar seperti orang fasik, janganlah merusak rumahnya.
- Amsal 24:15
Meski Hizkia telah menguras hartanya supaya kerajaan Asyur tidak menyerangnya, Sanherib tetap saja mengirimkan pasukan yang besar, berikut dengan pejabatpejabatnya, untuk menyerang (ay. 17). Menanggapi penyerangan ini, Hizkia juga mengirimkan para pejabatnya guna melakukan negosiasi. Negosiasi tersebut dimulai dengan perkataan juru minum Sanherib (ay. 19-25). Namun, bukannya bernegosiasi, juru minum tersebut malah melontarkan seribu satu tuduhan yang tidak berdasar! Lebih-lebih lagi, tuduhan ini tidak hanya menyangkut hubungan Yehuda Selatan dan Asyur, tetapi juga menyangkut hubungan dengan Tuhan!
Ada tiga tuduhan yang dilontarkan: (1) Yehuda Selatan beraliansi dengan Mesir (ay. 21), (2) Tindakan Hizkia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan membatasi ibadah hanya di Yerusalem adalah upaya menghalangi ibadah rakyat kepada Tuhan (ay. 22), dan (3) Yahweh, Allah Israel, berfirman kepada raja Asyur untuk menyerang Yehuda Selatan (ay. 25). Padahal, semua tuduhan ini salah. Pertama, tidak pernah diceritakan Yehuda Selatan beraliansi dengan Mesir. Ini hanyalah buruk sangka kerajaan Asyur terhadap Yehuda Selatan. Kedua, tindakan Hizkia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan membatasi ibadah hanya di Yerusalem justru adalah bentuk ketaatan Hizkia kepada firman Tuhan dalam Ulangan 12:1-7! Ketiga, Tuhan memang menghendaki Asyur menyerang Yehuda. Namun, nantinya kita akan membaca bagaimana Tuhan menghendaki hal ini bukan untuk membuat Yehuda menyerah, melainkan justru untuk menunjukkan kuasa-Nya atas kerajaan Asyur yang sombong, sekaligus memperkuat iman Hizkia.
Kita mungkin berpikir, tidak heran kerajaan Asyur berburuk sangka seperti ini kepada Yehuda Selatan. Mereka kan memang kerajaan yang tidak mengenal Tuhan dan ingin menggunakan segala secara untuk melemahkan iman umat Tuhan. Akan tetapi, bukankah kita pun sering bersikap seperti ini? Seperti orang yang tidak mengenal Tuhan? Seringkali kita berprasangka buruk kepada sesama orang percaya. Sama seperti juru minum tersebut, kita berprasangka bahwa seorang rekan orang percaya bergaul dengan orang-orang yang tidak baik. Kita berprasangka bahwa ia melakukan dosa, padahal justru yang dilakukannya adalah kehendak Tuhan. Kita bahkan berprasangka bahwa Tuhan menyuruh kita menjauhi, menegur, bahkan menggosipkannya, padahal sesungguhnya ini hanya perasaan kita saja. Berhentilah berburuk sangka, apalagi kepada saudara seiman. Jika ada kesalahpahaman, selesaikan dengan baik.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah atau sedang menyimpan prasangka buruk terhadap seorang saudara seiman? Mengapa Anda menghakiminya demikian? Apa rupanya prasangka buruk itu benar adanya?
- Mengapa Tuhan tidak menghendaki kita berburuk sangka, khususnya kepada sesama saudara seiman?
