Bagikan artikel ini :

Bukan Tuhan Yang Transaksional

2 Tawarikh 36:22-23

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
- 1 Korintus 15:10

Sejujurnya, saya kecewa berat sesudah mempelajari dan menulis renungan tentang para raja keturunan Daud ini. Mengapa? Karena saya pikir raja-raja yang baik seperti Yosafat, Hizkia, dan Yosia adalah raja yang sempurna. Tak tahunya, mereka semua punya kelemahan, entah besar atau kecil. Ada kalanya mereka tidak taat, kekurangan iman, dan menjadi sombong.

Demikianlah adanya manusia. Kita semua telah berdosa, bahkan orang yang paling saleh dan hamba Tuhan yang paling senior pun memiliki kekurangan. Para raja ini pun tidak berbeda. Semua inilah yang menyebabkan kerajaan Yehuda Selatan pada akhirnya jatuh dan penduduknya dibuang ke Babel.

Akan tetapi, apakah ceritanya hanya sampai di sana? Jika Tuhan kita adalah Tuhan yang legalistik, transaksional, dan memakai hukum timbal-balik, maka kisah kerajaan Yehuda tamat sampai di sini. Umat yang jahat dengan raja-raja yang semuanya berdosa harus dihukum. Tidak ada harapan lagi. Namun, hari ini kita membaca dua ayat pendek yang membuktikan bahwa Tuhan kita bukan Tuhan yang legalistik, melainkan penuh anugerah. Sesudah hampir lima puluh tahun sejak Yerusalem dihancurkan oleh Babel, kini penduduk Yehuda diizinkan kembali ke Yerusalem atas dekrit Koresh, raja Persia yang mengalahkan Babel. Tuhan membawa mereka pulang, bukan karena mereka layak dikasihani, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan yang menyelamatkan mereka.

Pada akhirnya, inilah jalan hidup semua orang Kristen. Tidak ada satu pun dari kita yang sempurna. Kita berbuat dosa, dan jika kita tidak segera bertobat dan terus berlarut-larut dalam dosa tersebut, kita jatuh ke dalam keterpurukan, mirip dengan kondisi orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel. Namun, apakah sampai di sini? Tidak! Sebagaimana Tuhan membawa mereka pulang ke Yerusalem, demikian Tuhan membawa kita pulang ke dalam pelukan-Nya. Ini terjadi bukan karena kebaikan kita, melainkan karena anugerah Tuhan.

Tidak ada satu pun dari kita yang dapat membanggakan kebaikan kita. Hanya karena anugerah-Nya, kita ada sebagaimana kita ada sekarang.


Refleksi Diri:

  • Kapan dan bagaimana Anda pertama kali merasakan anugerah dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat?
  • Coba bayangkan, misalkan Anda tidak pernah mengenal Tuhan dan menerima anugerahNya, seperti apakah kehidupan Anda saat ini?