Bukan Sekadar Masuk Surga
2 Tawarikh 12:1-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
- Matius 5:16
Rehabeam telah melakukan manuver politik yang bijaksana dan memperkuat Yehuda Selatan. Tentu saja keberhasilannya ini tidak lepas dari penyertaan Tuhan. Namun, bukannya berterima kasih, Rehabeam malah meninggalkan Tuhan. Akibatnya, “Aku pun meninggalkan kamu juga dalam kuasa Sisak” (ay. 5). Rehabeam dan seluruh Israel akhirnya mengalami kekalahan bertubi-tubi dalam penyerangan yang dilakukan oleh raja Mesir.
Jika tidak berhati-hati dalam membaca Alkitab maka kita akan menarik kesimpulan yang salah bahwa kasih dan kesetiaan Tuhan bersyarat, tergantung kesalehan kita atau terlebih salah lagi, jika kita menafsirkan bahwa anugerah keselamatan dapat hilang. Ini semua bukanlah pemahaman yang tepat. Jadi, apa artinya Tuhan meninggalkan Yehuda Selatan dalam kuasa Sisak?
Ingat bahwa Yehuda Selatan adalah umat yang Tuhan pilih untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa di sekitarnya. Tuhan berkehendak agar melalui kerajaan kecil ini, bangsa-bangsa di sekelilingnya mengenal Tuhan yang sejati, yang berbeda dengan dewa-dewi pahatan yang mereka sembah. Ini adalah panggilan mulia yang tidak diberikan-Nya kepada bangsa-bangsa yang lebih besar, perkasa, dan kaya. Jadi, ketika dikatakan Tuhan meninggalkan mereka, maksudnya adalah mereka tidak lagi dapat menjalankan panggilan mulia tersebut untuk menjadi terang. Bukannya memuliakan Tuhan, kekalahan mereka melawan Sisak justru membuat bangsa-bangsa lain berpikir, ah, Allahnya kerajaan Yehuda lemah! Lebih kuat dewa-dewi Mesir! Hanya ketika mereka bertobat, mereka lepas dari keadaan tersebut.
Sebelum mengecam kerajaan Yehuda Selatan, marilah kita berkaca dahulu. Bukankah ini yang sedang terjadi dengan gereja-gereja masa kini? Ya, gereja berikut segenap jemaatnya memang tidak mengalami kemurtadan dan kehilangan keselamatan. Namun, bukankah seringkali ketidaktaatan kita membuat kita gagal menjalankan panggilan kita sebagai terang dunia? Bukannya hidup di dalam kejujuran, integritas, kasih, dan hikmat, kita seringkali berpikir, yang penting aku sudah diselamatkan. Terserah aku mau berperilaku seperti apa karena Tuhan pasti mengampuniku. Ya, tetapi kemudian orang lain justru menajiskan nama Tuhan ketika melihat kecurangan yang kita lakukan, kebodohan ketika mengambil keputusan, dan ego besar yang membuat kita gagal mengasihi sesama.
Ingat, panggilan kita bukan sekadar masuk surga, melainkan menjadi terang bagi dunia.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah jatuh ke dalam dosa dan ketidaktaatan, sampai-sampai menjadi kesaksian yang buruk bagi sesama? Bagaimana perasaan Anda?
- Apa langkah praktis yang dapat Anda lakukan untuk mempertahankan hidup dalam jalan ketaatan dan menjadi terang bagi sesama?
