Bagikan artikel ini :

Buah Jatuh Jauh Sekali Dari Pohonnya

2 Raja-raja 21:1-18

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
- 1 Petrus 5:5

Pepatah mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Tapi, bagaimana dengan Manasye? Ia adalah anak Hizkia, seorang raja yang baik dan sudah melewati berbagai pengalaman bersama Tuhan, penuh iman dan keberanian. Jadi, bagaimana mungkin Manasye bisa menjadi raja sebobrok ini? Buah jatuh jauh sekali dari pohonnya.

Dua kali Manasye dikatakan “mengakibatkan orang Yehuda berdosa pula” (ay. 11, 16). Klausa ini hanya disematkan kepada raja-raja Kerajaan Israel Utara yang jahat dan telah dimusnakan oleh Asyur atas kehendak Tuhan. Semua raja Israel Utara dikatakan “mengakibatkan orang Israel berdosa pula,” kecuali Salum karena ia hanya memerintah selama sebulan. Sebaliknya, tidak ada satu pun raja Yehuda Selatan yang dideskripsikan demikian, kecuali Manasye. Jadi, penulis Alkitab hendak menunjukkan bahwa Manasye sudah lebih jahat daripada raja-raja Israel Utara yang telah dihancurkan itu, bahkan “lebih daripada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN” (ay. 9). Itulah sebabnya Tuhan kemudian berfirman bahwa Ia pun akan menghancurkan kerajaan Yehuda (ay. 10-15).

Sentimen yang berlaku di zaman sekarang adalah bahwa anak tidak pernah salah. Kalau anaknya tidak benar, berarti pasti salah orangtuanya yang tidak menjadi teladan baik untuknya. Akibatnya, seringkali anak-anak dibebaskan dari pertanggungjawaban dan orangtuanya-lah yang dikecam. Namun, bagian ini menunjukkan bahwa tidak selalu demikian adanya. Setiap orang, bahkan anak-anak yang baru lahir sekalipun, memiliki kapasitas untuk berbuat dosa karena dosa asalnya. Meski telah dididik oleh orangtua yang saleh dan tumbuh di lingkungan yang baik, si anak bisa saja tetap berakhir menjadi orang seperti Manasye.

Sebaliknya, ada anak yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang kurang baik, tetapi menjadi orang yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa pada akhirnya, tindakan kita sebagai anak pun adalah pertanggungjawaban kita. Orang-orang tua di sekeliling kita bisa saja telah mengajari kita dengan baik, tetapi kita sendiri yang menolak untuk taat dan memilih jalan kita sendiri.

Kalau kita memiliki orangtua yang baik, biarlah kita “jatuh tidak jauh dari” orangtua kita.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana Anda menilai orangtua dan lingkungan masa kecil Anda? Apakah Anda dibesarkan dengan teladan dan pendidikan yang baik? Mengapa Anda berpikir demikian?
  • Bagaimana didikan tersebut membentuk Anda menjadi sebagaimana Anda hari ini? Apakah Anda cenderung menyalahkan orang-orang tua di masa lalu atas tindakan Anda hari ini?