Bagikan artikel ini :

Berani Menghadapi Kematian

Ibrani 2:14-18

dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.
- Ibrani 2:15

Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Meski kita berusaha menutupinya dengan kesibukan dan kegiatan sehari-hari, kematian tetap menjadi bayangan yang menakutkan. Namun, berita Injil memberi kita pengharapan, yaitu Kristus datang untuk mematahkan kuasa maut dan membebaskan kita dari rasa takut.

Yesus mengambil bagian dalam “darah dan daging” agar melalui kematian-Nya, Dia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut dan membebaskan manusia dari perhambaan ketakutan akan kematian (ay. 14-15). Dalam Ibrani 2:15, kata “perhambaan” atau douleia dalam bahasa Yunani memiliki arti keadaan sebagai budak, keterikatan atau hidup dalam ikatan. Sedangkan kata “takut” atau phobos berarti ketakutan, kengerian atau rasa gentar yang mendalam. Jadi, ayat emas menggambarkan manusia yang seumur hidupnya diperbudak oleh rasa gentar terhadap maut, bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan perbudakan batin yang mengekang hidup.

Kristus datang untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dan ketakutan sehingga orang percaya dapat hidup dalam kebebasan dan keberanian. Yesus yang pernah menjadi manusia, mengerti mengenai penderitaan dan pencobaan yang kita alami sehingga Dia dapat menolong kita yang dicobai (ay. 16-18). Jadi, kematian seharusnya tidak lagi menjadi kuasa yang menakutkan, melainkan pintu menuju kehidupan bersama Allah. Teolog John Calvin pernah menuliskan: Kristus dengan kematian-Nya menghancurkan kuasa kematian sehingga orang percaya dapat menatap kematian tanpa gentar, karena maut telah kehilangan sengatnya. Reformator Martin Luther juga menuliskan: Siapa yang percaya kepada Kristus, maka kematian hanyalah tidur singkat menuju kebangkitan.

Seorang dokter Kristen sering menyaksikan bagaimana pasiennya menghadapi kematian. Ia berkata, “Ada perbedaan besar antara orang yang memiliki iman kepada Kristus dan yang tidak. Yang satu bisa menghadapi kematian dengan tenang, yang lain penuh ketakutan.” Keyakinan akan Kristus memberi keberanian menghadapi saat-saat paling menegangkan. Di tengah tekanan hidup karena pekerjaan, persaingan bisnis, dan krisis ekonomi, banyak orang berjuang demi keamanan hidup. Namun, kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk melihat hidup ini dalam terang kekekalan. Kematian sudah dikalahkan Kristus maka kita dipanggil untuk hidup dengan berani, antara lain dengan bersikap jujur dalam pekerjaan, setia dalam keluarga, berani melawan arus dosa dan tetap berharap meski masa depan dunia tampak gelap.


Refleksi Diri:

  • Apa bentuk ketakutan akan kematian yang masih memengaruhi cara Anda menjalani hidup sehari-hari?
  • Bagaimana iman kepada Kristus bisa menolong Anda hidup lebih berani serta tenang di tengah tekanan hidup dan menghadapi maut?