Bagikan artikel ini :

Bebal, Apakah Itu?

Amsal 17:7-16

Lebih baik berjumpa dengan beruang betina yang kehilangan anak, dari pada dengan orang bebal dengan kebodohannya.
- Amsal 17:12

George Bernard Shaw, sastrawan Irlandia pemenang Nobel bidang sastra tahun 1925, menuliskan sebuah kutipan dalam karyanya berjudul Man and Superman: Jika saya membawa sebuah apel, kamu juga membawa sebuah apel, kita bertukar, maka saya pulang membawa satu, kamu pulang membawa satu. Namun, jika saya membawa sebuah ide, kamu juga membawa sebuah ide, kita bertukar, maka saya pulang membawa dua dan kamu pulang juga membawa dua.

Apa buah percakapan kita dengan orang sekitar? Bagaimana komunikasi kita dengan orang terdekat? Nasihat penulis Amsal membawa kita pada wawasan yang lebih baik, yaitu agar selalu waspada ketika berdiskusi dengan orang bebal. Metafora yang penulis gunakan adalah beruang betina yang kehilangan anak, yang menggambarkan sosok makhluk buas yang menjadi jinak saat butuh pertolongan dan membuka diri menjadi sahabat. Beruang dibandingkan dengan orang yang bebal, yang menutup diri terhadap semua nasihat. Ia merasa diri benar dan orang lain selalu salah.

Orang bebal menurut kata bahasa Ibrani menggunakan kata kesil, artinya kebodohan atau foolishness. Kebebalan dan kebodohan yang dimaksud bukan masalah tinggi rendah tingkat pendidikan, melainkan karakter buruk manusia yang selalu menolak kebenaran yang berasal dari luar dirinya. Akibatnya, apa yang disampaikan orang lain menjadi sia-sia karena ia selalu menolak bertukar pikiran dan lebih mengarah kepada keributan atau mengorek perkara yang dicari-cari. Dalam Amsal 18:6 tertulis salah satu ciri khas orang bebal, yakni “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan dan mulutnya berseru meminta pukulan”. Amsal 23:9 menyampaikan nasihat lain menghadapi orang bebal, “Jangan berbicara di telinga orang bebal, sebab ia akan meremehkan kata-katamu yang bijak.”

Sobat terkasih, mari kita menghindari perdebatan yang sia-sia, yang berpeluang menyakiti satu sama lain, bahkan bisa membawa perpecahan. Berdiskusilah yang sehat dengan hati dan pikiran yang terbuka agar kita bisa belajar bersama melihat hal-hal baru yang saling membangun, bukannya saling menjatuhkan. Belajarlah bijak, lebih baik sedikit berkata-kata, tetapi bertindak tepat pada waktunya.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana komunikasi Anda dengan sesama selama ini? Apakah Anda sudah terbuka untuk bertukar pikiran?
  • Bagaimana langkah praktis Anda menghindari perdebatan dan mengarahkan perbincangan dengan sesama yang membangun?