Bagikan artikel ini :

Bayar Harga Karena Kebenaran

2 Tawarikh 18:23-27

Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.
- Markus 13:9

 

Di bagian sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Mikha memberikan nubuatan kepada Ahab bahwa ia akan kalah melawan Aram. Begitu ia menyampaikan hal tersebut, Zedekia, salah satu nabi palsu Ahab, menampar Mikha. Tak hanya itu, Mikha ditangkap, dijebloskan dalam penjara, dan tidak diberi makan secara cukup (ay. 26). Padahal, Ahab sendiri yang memintanya mengatakan kebenaran (2Taw. 18:15).

 

Itulah harga yang harus dibayar karena mengatakan kebenaran. Sebagaimana disampaikan Tuhan Yesus, para nabi Perjanjian Lama hidup menderita dan dibenci karena menyatakan kebenaran yang tidak mengenakkan (Luk. 6:22-23). Sebaliknya, nabi-nabi palsu disenangi, dipuji-puji (Luk. 6:26). Mereka bahkan hidup dalam kelimpahan karena nubuatan-nubuatan mereka yang enak didengar, dibayar mahal oleh raja-raja yang lalim.

 

Di zaman Perjanjian Baru, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus dan para rasul mati karena kebenaran. Selain itu, banyak pula orang Kristen mula-mula yang membayar harga dengan mati martir. Bahkan sampai saat ini, entah berapa banyak orang yang mati karena mempertahankan imannya dan menyatakan kebenaran.

 

Puji Tuhan di negara ini, kita masih memiliki kebebasan dan kelonggaran untuk mengabarkan Injil. Namun, membayar harga karena mengatakan kebenaran tidak hanya terjadi dalam konteks penginjilan, tetapi juga dalam konteks-konteks lainnya. Di dalam pekerjaan, Anda mengatakan hal yang jujur dan penuh integritas. Bukannya dipuji, Anda malah menerima teguran bahkan di-PHK. Di komunitas lain, bahkan dalam pelayanan gerejawi, Anda mengalami pengucilan karena mengatakan kebenaran yang tidak enak didengar.

 

Tidak heran banyak orang yang mulutnya bisa diperjualbelikan. Orang-orang seperti ini memutarbalikkan kebenaran demi mendapat penerimaan orang lain dan keuntungan. Yang lainnya mungkin tidak secara sengaja menjual kebenaran, tetapi tetap diam dan menolak mengatakan kebenaran. Penginjil Martin Luther King Jr. pernah mengatakan, “Tragedi terbesar bukanlah kejahatan, melainkan orang-orang baik yang tetap diam.”

 

Memang ada waktunya untuk kita berdiam diri. Akan tetapi, ingatlah panggilan kita sebagai orang Kristen, yakni menyatakan kebenaran terlepas dari apa pun risikonya.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda pernah diperhadapkan pada pilihan untuk main aman dengan cara diam atau menyatakan kebenaran, tetapi akan membayar harga yang mahal? Pilihan apa yang Anda ambil?
  • Bagaimana cara memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran, terlepas dari risikonya?