Bapa Yang Kekal (2)
2 Tawarikh 28:16-21
Asyur tidak dapat menyelamatkan kami; kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim.
- Hosea 14:4
Kita telah melihat bagaimana Ahas memanggil Tiglat-Pileser, raja Asyur, sebagai bapanya sebagai bentuk penyerahan diri, padahal Asyur suatu saat akan berkhianat melawan Yehuda, sesuai nubuat Nabi Yesaya (Yes. 8:5-8). Di bagian ini kita membaca bagaimana Asyur tidak cukup kompeten untuk menjadi andalan Ahas, bahkan sebelum nubuat Yesaya tentang penyerbuan Asyur terhadap Yehuda terjadi. Bukannya membantu Yehuda yang diserang berbagai kerajaan (ay. 17-18), Asyur justru “menyesakkannya” (ay. 20). Beberapa ahli biblika menjelaskan bahwa Asyur memaksakan upeti yang berat kepada Yehuda Selatan, bahkan membawa rakyatnya sebagai budak mereka. Padahal mereka tidak memberikan pertolongan apa pun.
Itulah jadinya jika kita mengandalkan orang lain di atas Tuhan. Kita akan berakhir dengan kekecewaan. Seorang manusia—tidak peduli seberapa tingginya kedudukannya, seberapa pandainya, seberapa kayanya, dan seberapa baiknya adalah makhluk yang terbatas dan sudah jatuh ke dalam dosa. Jangankan pengacara terkenal, dokter andalan, politikus orang dalam atau hamba Tuhan sekalipun, bahkan saudara, pasangan, dan orangtua kita tidak selalu dapat menolong kita. Mungkin mereka sama tidak berdayanya dengan kita, mungkin mereka berkhianat atau mungkin mereka sudah tidak lagi bersama-sama kita.
Tuhan mengizinkan hal ini terjadi supaya kita hanya mengandalkan-Nya saja. Sesungguhnya di dunia ini kita seperti “anak yatim”, demikianlah ungkap Nabi Hosea (Hos. 14:4). Kita mencari bapa yang ini atau yang itu, yang kita anggap dapat selalu menolong kita. Namun, selama kita masih berpindah dari satu bapa ke bapa yang lain, status “anak yatim” itu tidak akan hilang. Status “anak yatim” itu hanya akan hilang ketika kita diadopsi ke dalam keluarga Allah, yakni ketika kita sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Itulah sebabnya Allah mengizinkan kita mengalami kekecewaan demi kekecewaan terhadap orang lain, supaya pada akhirnya kita tahu Dia adalah satu-satunya Bapa kita.
Segala kekecewaan yang kita rasakan terhadap orang lain hendaknya menumbuhkan kerohanian kita. Inilah tanda dari pertumbuhan rohani, yakni ketika sehari lepas sehari, kita belajar menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan Yesus.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah dikecewakan dan kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang Anda andalkan? Apa yang dilakukannya yang membuat Anda kecewa?
- Apakah kekecewaan terhadap orang tersebut membuat Anda makin mengandalkan Tuhan atau sebaliknya? Mengapa demikian?
