Bagikan artikel ini :

Bapa Yang Kekal (1)

2 Raja-raja 16:5-9, Yesaya 7:10-14

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
- Yesaya 9:5

Anda tentu sadar bahwa ayat-ayat yang Anda baca hari ini sering dikhotbahkan dalam momen-momen Natal, bukan? Anda tahu ayat-ayat ini merupakan nubuat tentang Tuhan Yesus. Namun, Anda mungkin tidak tahu secara lengkap konteks dari ayat ini.

Apa respons Ahas ketika Tuhan mencarinya dan memanggilnya untuk kembali percaya kepada-Nya dengan meminta tanda (Yes. 7:11)? Bukannya menerima dan bersyukur, Ahas malah menolak bahkan dengan sok rohani mengatakan bahwa ia “tidak mau mencobai Tuhan”. Ini hanya alasan saja! Alasan utama Ahas tidak mau meminta tanda dan pertolongan Tuhan adalah karena ia sudah menjalin aliansi dengan kerajaan Asyur! Dengan kata lain, secara politik Ahas bersalah karena merusak netralitas yang telah dibentuk Yotam. Namun terlebih dari itu, secara spiritual ia pun berdosa karena lebih mengandalkan orang lain, dalam hal ini raja Asyur bernama Tiglat-Pileser, daripada Allahnya!

Tak hanya itu, Ahas sampai mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri di hadapan Tiglat-Pileser dengan menempatkan dirinya sebagai anak dan Tiglat-Pileser sebagai bapa (2Raj. 16:7). Menurut budaya masa itu, seorang raja dari kerajaan kecil (vassal) akan memanggil raja dari kerajaan yang besar dan kuat (suzerain) sebagai “bapa” ketika meminta tolong. Ini menunjukkan bagaimana si raja kecil atau vassal sepenuhnya bergantung kepada si raja besar atau suzerain. Demikianlah sikap Ahas terhadap Tiglat-Pileser, “bapa”nya. Padahal Asyur sendiri nantinya akan berkhianat dan menyerbu Yehuda (Yes. 8:5-8).

Itulah sebabnya salah satu gelar untuk Sang Mesias adalah “Bapa yang Kekal”. Tuhan seolah hendak mengatakan, “Kamu memanggil Tiglat-Pilezer yang akan mengkhianatimu sebagai bapa! Padahal di sini kamu punya Bapa yang Kekal!”

Bukankah kita seringkali seperti Ahas? Kita punya “bapa-bapa” lain yang kita andalkan. Mungkin pengacara atau dokter tertentu, mungkin atasan atau orang dalam tertentu, bahkan mungkin hamba Tuhan tertentu. Merekalah yang kita andalkan ketika menghadapi masalah. Tentu tidak salah meminta pertolongan mereka, tetapi ingatlah bahwa pada akhirnya, satusatunya Bapa yang kekal, yang tidak akan meninggalkan kita, hanyalah Tuhan Yesus saja.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda selama ini memiliki “bapa-bapa” yang Anda andalkan dalam kehidupan Anda? Siapakah mereka dan mengapa Anda mengandalkan mereka?
  • Apakah posisi mereka telah menggantikan posisi Tuhan sebagai “Bapa yang Kekal” di hati Anda? Jika ya, apa yang harus Anda lakukan untuk kembali belajar mengandalkan Tuhan?