Bagikan artikel ini :

Antara Hikmat Dan Pengetahuan

Pengkhotbah 1:12-18

Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat (chokmah) dan pengetahuan (daath), kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal ini pun adalah usaha menjaring angin, karena di dalam banyak hikmat (chokmah) ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan (daath), memperbanyak kesedihan.
- Pengkhotbah 1:17-18

Setinggi apa pun pengetahuan seseorang, ternyata belum tentu ia mendapatkan makna hidup yang sejati. Karena makna hidup bukanlah terletak pada banyak sedikit pengetahuan atau tinggi rendah kepandaian. Raja Salomo pun dengan segala hikmat dan pengetahuan yang dimilikinya, juga mengakui bahwa semua itu adalah usaha menjaring angin, artinya segala sesuatu adalah kesia-siaan (ay. 14).

Apa beda hikmat dan pengetahuan? Hikmat berasal dari kata chokmah artinya kebijaksanaan (wisdom). Hikmat adalah kemampuan membuat keputusan yang benar berdasar pengalaman, konsep etika, dan wawasan. Hikmat menuntun kapan seseorang berbicara dan diam, serta mampu melihat dampak perkataannya terhadap orang-orang di sekitarnya. Sementara pengetahuan berasal dari kata daath artinya belajar untuk mengetahui (learn to know). Pengetahuan berkaitan erat dengan kepandaian yang diperoleh dari pendidikan, pembelajaran dan pelatihan.

Apa jadinya jika seseorang berpengetahuan tinggi, tapi tanpa hikmat? Bisa muncul figur yang selalu bermasalah bagi orang sekitar. Ia tidak pernah peduli apa yang dirasakan orang lain karena tidak ada hikmat.

Apa jadinya jika seseorang memiliki hikmat, tapi sedikit pengetahuan? Keadaan sedikit lebih baik, tetapi ia tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menyelesaikan masalah yang kerap terjadi.

Apa jadinya jika hikmat dan pengetahuan tidak dimiliki? Jadilah kebebalan hidup. Seseorang tidak bisa membedakan tangan kanan dan kiri, baik dan benar, berharga dan tidak berharga, semua diputarbalikkan olehnya.

Salomo figur yang memiliki hikmat maupun pengetahuan. Namun, mengapa ia sampai berkata, “Segala sesuatu adalah kesia-siaan”? Karena ia melihat batas dirinya yang tidak akan pernah mampu mengenali jalan Tuhan hanya dengan hikmat dan pengetahuan.

Sobat terkasih, kita bisa mengenal jalan Tuhan yang menuntun ke arah makna hidup sejati hanya karena hidup takut kepada Tuhan, bukan karena hikmat dan pengetahuan yang kita miliki. Mari belajar hidup menghargai Allah, jangan abaikan kehendak-Nya bagi hidup kita. Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Di luar takut akan Tuhan, segala sesuatu adalah kesia-siaan.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda termasuk orang yang cenderung lebih menggunakan hikmat atau pengetahuan? Apa dampaknya jika tidak disertai takut akan Tuhan?
  • Apa yang bisa Anda lakukan dalam memanfaatkan hikmat dan pengetahuan untuk mengenal kehendak-Nya dalam hidup Anda?