Ambang Batas
Mazmur 63
Sebab kasih setia-Mu (khesed) lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.
- Mazmur 63:4
Adakalanya kita terlalu penat menghadapi hidup, jiwa kita sebenarnya ingin berteriak, “Aku lelah dengan semua ini!” Kita mungkin sedang mengalami kondisi seperti ini. Kekuatan mental kita ada batasnya, demikian pula kekuatan pikiran kita. Semua orang bisa mengalami kelelahan karena beban yang harus dipikul sudah sampai di ambang batas. Di manakah tempat terbaik supaya kita tenang dan tetap kuat menghadapi beban hidup?
Nabi Elia begitu digdaya mengalahkan 450 nabi Baal, tetapi setelah menang ia berada di titik terendah. Rasul Paulus yang begitu luar biasa, pernah juga berada di titik terendah tersebut. Seorang hamba Tuhan terhebat pun, tetap memiliki titik terendah. Siapa pun kita, tidak memandang kedudukan dan jabatan, bisa berada di ambang batas. Secara alami, setelah tubuh bekerja keras maka perlu beristirahat agar dapat segar dan kuat kembali. Tanpa kita sadari, hati, pikiran, dan mental kita sebenarnya sudah sangat lelah setelah sekian bulan, bahkan sekian tahun tidak pernah tenang. Berbagai masalah datang silih berganti tiada hentinya.
Mazmur 63:4 memiliki kata kunci ḥas·də·ḵā dari akar kata khesed, artinya kasih kebaikan (the loving kindness). Ayat emas ini menjelaskan ungkapan isi hati dan jiwa Daud saat ia sedang lapar, haus, sewaktu-waktu dapat dibunuh oleh Saul, dan tidak ada seorang pun memahami apa yang dirasakannya. Ungkapan ini muncul sebagai kerinduan Daud untuk menyembah Allah dalam bait-Nya karena kasih setia-Nya telah menyelamatkan dan memelihara hidupnya. Daud kuat menghadapi semua itu karena ia selalu mengharapkan pertolongan Allah dan percaya Dia akan selalu menopang (ay. 7-9). Karena itu, walaupun di tengah-tengah kondisi sulit, Daud mendapat kekuatan baru.
Marilah mendekat kepada Tuhan. Nyatakan isi hati kita apa adanya, ketakutan akan kegagalan, jatuh bangun kita secara terbuka. Tenangkan diri sejenak bersama Tuhan. Tangan Tuhan selalu siap menolong dan menopang kita melewati titik terendah tersebut. Bersama Kristus kita selalu dipelihara oleh kasih setia-Nya yang tak pernah surut dalam hidup. Apa pun yang kita alami tidak akan melebihi ambang batas kita.
Refleksi Diri:
- Kapan terakhir kali Anda berada di ambang batas titik terendah Anda? Apa yang Anda lakukan saat itu?
- Apakah Anda sudah mendekat kepada Tuhan, yang mampu menolong Anda melewati ambang batas tersebut?
