"Aku Kan Hanya Bercanda"? (II)
Amsal 12:16
Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.
- Amsal 12:16
Sebelumnya kita telah merenungkan tentang orang yang suka merendahkan orang lain di depan banyak orang, tetapi berdalih, “Aku kan hanya bercanda!” Sekarang kebalikannya, bagaimana jika kita-lah yang menjadi korban dari “bercandaan” tersebut? Apa yang harus dilakukan kalau kita berada dalam posisi demikian?
Raja Salomo berpetuah agar tidak segera menunjukkan kekesalan atau kemarahan kita karena itu adalah tindakan yang bodoh. Mengapa bodoh? Karena seperti yang telah kita lihat sebelumnya, orang yang memanipulasi dengan melakukan hal pengecut seperti ini memang sengaja ingin memancing respons dari Anda. Ibarat menyiram api dengan minyak, Anda hanya akan memberinya kepuasan ketika merespons secara langsung.
Tindakan yang bijaksana adalah mengabaikan cemoohan tersebut. Namun, apakah ini berarti kita sama sekali tidak menegurnya? Tidak juga. Rumus umum yang biasanya digunakan adalah once is an accident, twice is a coincidence, three times is a habit (satu kali adalah kecelakaan, dua kali adalah kebetulan, tiga kali adalah kebiasaan). Dengan kata lain, jangan menegur atau menyatakan sakit hati kita pada saat itu juga. Mungkin pada momen itu ia benar-benar hanya bercanda atau mungkin hari itu mood kita-lah yang sedang sensitif. Namun, jika orang itu melakukannya sampai tiga kali, kemungkinan besar ini adalah kebiasaan atau sebuah tindakan yang disengaja untuk menjatuhkan kita. Apa pun motivasinya, kita perlu untuk menegurnya. Hal ini juga berlaku meskipun Anda bukan korban bercandaannya.
“Ah, apa salahnya kita balas mempermalukan dia, kemudian menyahut ‘aku kan hanya bercanda!’ juga? Biar tahu rasa dia!” Mungkin ini yang menjadi pemikiran kita. Ini adalah respons yang sangat manusiawi ketika kita dipermalukan. “Jika aku balas mempermalukannya, mungkin dia akan jera dan tidak berani macam-macam lagi padaku,” kita berdalih. Namun, ingatlah bahwa identitas kita sebagai orang Kristen juga harus terpancar melalui tutur kata. Tuhan Yesus, teladan kita, dipermalukan jauh lebih buruk daripada kita, tetapi Dia tidak membalas.
Jadi, sabar saja menghadapi orang-orang seperti itu. Ajak bicara dan tegur ia secara pribadi. Jika ia masih tetap bebal dan dengan sengaja melakukannya lagi, mungkin ia bukan orang yang tepat untuk dijadikan kawan.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah mendengar seseorang berdalih dengan mengatakan, “Aku kan hanya bercanda!” sesudah mempermalukan Anda? Bagaimana perasaan dan respons Anda saat itu?
- Apa langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk menyadarkan dan menegur orang tersebut?
