"Aku Kan Hanya Bercanda"? (I)
Amsal 26:18-19
Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut, demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: “Aku hanya bersenda gurau.”
- Amsal 26:18-19
Pernahkah Anda bertemu orang yang suka merendahkan orang lain di depan banyak orang, tetapi ketika ditegur, malah berdalih dengan mengatakan, “Ah, aku kan hanya bercanda! Kamu kok sensitif sekali, sih?” Rekan kerja, saudara, orangtua, bahkan pasangan Anda mungkin sering melakukannya, bahkan mungkin Anda sendiri pernah melakukannya. Di depan banyak orang, Anda entah sengaja atau tidak, mempermalukan seseorang, “Dia gendut seperti itu karena rakus!” Akan tetapi, ketika orang yang Anda permalukan atau orang lain menegur Anda, Anda malah menertawakannya dan berkata, “Aku kan hanya bercanda!”
Jika Anda sering melakukan hal demikian, selamat! Berarti Anda “seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut”. Hah? Anda marah kepada saya? Ah, saya kan hanya bercanda! Anda kok sensitif sekali, sih?!
Nah, bagaimana rasanya dikatai seperti itu? Tentu terasa sakit hati dan kesal, bukan? Sebenarnya, saya tidak sedang bercanda. Bagaimanapun, bukan saya yang mengatakan, melainkan Alkitab-lah yang melalui Salomo mengatakan bahwa orang yang dengan santai mengatakan, “Aku kan hanya bercanda!” sehabis melukai hati orang lain adalah ibarat orang gila yang sembarang menyerang. Ia bisa melukai hati orang lain dan bahkan membuatnya tertekan atau yang lebih parah mendendam.
Mengapa ini adalah masalah yang begitu serius, sampai-sampai Alkitab harus menyebutkannya? Karena cara seperti ini adalah bentuk manipulasi yang dilakukan oleh orangorang pengecut untuk membuat orang yang dihina menjadi serba salah dan berada dalam posisi terjepit. Kalau diam, berarti dirinya dianggap lemah dan seolah mengiyakan. Kalau merespons, berarti dianggap terlalu sensitif dengan candaannya.
Sebagai seorang Kristen, layakkah kita berkomunikasi dengan cara yang manipulatif seperti ini? Coba bayangkan kalau Tuhan Yesus melakukannya. Dia menegur orang-orang Farisi, “Hei! kamu keturunan ular beludak!” Kemudian saat hendak ditangkap dan disalibkan, Yesus menyahut, “Lho, aku kan hanya bercanda!” Menggelikan sekali. Syukurlah Tuhan kita bukanlah pengecut seperti itu, melainkan seseorang yang berbicara apa adanya, tanpa manipulasi. Berhenti mengatakan, “Aku kan hanya bercanda!” sesudah mempermalukan seseorang. Lagipula, maaf saja, bercandaan seperti itu sama sekali tidak lucu.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda memiliki kebiasaan memanipulasi lawan bicara dengan mengatakan, “Aku kan hanya bercanda!” sesudah mempermalukannya? Apa respons yang biasa Anda dapatkan dan bagaimana perasaan Anda?
- Jika Anda sering melakukannya, bagaimana cara Anda memperbaiki kebiasaan berkomunikasi yang demikian?
