Akibat Blunder = Disiplin
2 Tawarikh 25:7-13
Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.
- Amsal 3:11
Kita telah membaca di bagian sebelumnya bagaimana Amazia melakukan blunder besar, yakni merekrut pasukan dari Israel Utara yang tidak dikenan Tuhan. Untungnya, Amazia masih menuruti nabi yang menegur tindakannya. Namun, perhatikan bahwa Amazia sebenarnya enggan menaati Tuhan dan hanya menurut ketika si nabi berjanji bahwa Tuhan dapat memberikan “ganti rugi” seratus talenta yang digunakannya untuk mengupahi pasukan Israel Utara (ay. 9).
Meski demikian, apakah Amazia diluputkan dari konsekuensi kebodohannya tersebut? Memang, Tuhan tidak jadi menghukum Amazia dengan “menggelincirkan [Amazia] di depan musuh” sebagaimana telah dinubuatkan-Nya (ay. 8). Amazia malah berhasil mengalahkan orang-orang dari bani Seir (ay. 11-12). Akan tetapi, tetap ada akibat dari blunder yang dilakukannya, yakni pasukan Israel Utara yang tidak jadi direkrut olehnya menjadi marah dan menyerbu kota-kota Yehuda, menewaskan penduduknya, serta menjarah harta mereka (ay. 13).
Inilah gambaran mengenai yang akan terjadi dalam hidup kita ketika melakukan blunder, entahkah itu dosa atau kebodohan yang disebabkan karena kita tidak berhikmat. Kita menyadari kesalahan tersebut, memohon ampun kepada Tuhan, dan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Di dalam skala yang lebih besar, yakni dosa-dosa kita, Tuhan tidak akan menghukum kita secara kekal di api neraka karena dosa-dosa tersebut. Akan tetapi, sama seperti Amazia, kita tetap akan mengalami akibat dari blunder kita di dunia ini. Sebagai contoh, bayangkan seorang anak gadis yang karena keteledorannya hamil di luar nikah, menerima pengampunan Tuhan atas dosa-dosanya. Namun, apakah pengampunan ini serta merta membuat kandungannya kempes? Tentu tidak. Ia tetap harus menjalani akibat dari blundernya, yakni kehamilan tersebut.
“Mengapa Tuhan tidak sekaligus membatalkan akibat blunder itu juga? Kan lebih komplit?” Karena Tuhan memakai akibat blunder atau konsekuensi dosa di dunia sebagai sarana untuk mendisiplin kita. Bayangkan jika Tuhan tidak hanya menghapuskan hukuman kekal di neraka, tetapi juga membebaskan kita dari semua bentuk disiplin dan ganjaran-Nya, pada akhirnya kita orang-orang Kristen akan menjadi anak gampang (Ibr. 12:8) yang seenaknya berbuat dosa.
Sebaliknya, justru kita harus melihat bahwa Tuhan mendisiplin kita karena Ia mengasihi kita. Ia ingin kita jera dan tidak mengulangi dosa-dosa itu.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah mengalami akibat dari blunder yang Anda lakukan? Apa hal yang Anda pelajari dari kesalahan tersebut?
- Apa jadinya jika Tuhan tidak mendisiplin anak-anak-Nya selama di dunia? Mengapa ganjaran Tuhan adalah hal yang sangat penting?
