Bagikan artikel ini :

Akhir Pencapaian Hidup

Ayub 10:8-12

Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu (aphar) kembali?
- Ayub 10:9

Ketika seseorang mencapai usia empat puluh tahun, biasanya ia akan merenungkan apa pencapaian hidup yang telah diraihnya. Banyak orang menyesal dan kecewa dengan kenyataan dan pencapaian hidupnya. Andai dulu begini pasti tidak begitu, andai dulu begitu pasti tidak begini. Merenung seperti itu, justru malah membuat putus asa, dan hatinya mungkin berkata, “Terlambat sudah!” atau “Percuma sudah!”

Padahal permasalahan utama yang kerap kita abaikan adalah apakah pencapaian hidup kita hari ini seperti yang Allah kehendaki? Benarkah ukuran keberhasilan di mata Allah adalah seberapa banyak harta kita? Berapa banyak takhta yang kita duduki? Berapa banyak kita dikenal sebagai orang ternama? Berapa banyak kita telah pergi menjelajah ke mana-mana?

Ayub mengingatkan, apa pun pencapaian kita akan berakhir menjadi debu. Kata kunci dalam bahasa Ibrani yang dipakai di ayat emas adalah aphar yang artinya debu (dust). Debu mengingatkan kita kepada Adam yang juga diciptakan dari debu tanah (Kej. 2:7). Semua manusia akan kembali menjadi debu, apa pun pencapaian hidupnya, bagaimana pun caranya. Raja-raja ketika mencapai akhir hayat, dijaga kuburnya dengan rapat-rapat, agar tidak termakan ngengat. Namun, apa saja usaha manusia, tidaklah pernah mampu menembus kesementaraan hidup. Semua akan kembali menjadi debu, tidak ada yang abadi.

Sobat terkasih, Allah kita setia dan adil, termasuk ketika mengukur pencapaian hidup kita. Sadarilah bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit. Namun, satu hal yang pasti bahwa jelas tidak ada yang tidak diberi. Lebih baik hidup bersyukur atas apa pun yang kita raih saat ini, daripada hidup terus menerus dalam kekecewaan kepada diri sendiri.

Ingatlah untuk lebih baik bersikap rendah hati meminta pertolongan Tuhan dan berterima kasih kepada-Nya, jika hari ini kita sedang menuai apa yang dulu kita tabur. Selain itu, jangan tenggelam dalam keputusasaan. Selama kesempatan masih ada, mari meraih apa yang Allah kehendaki dalam sisa waktu dari kehidupan kita.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana perasaan Anda ketika melihat pencapaian-pencapaian hidup Anda sejauh ini?
  • Apa pencapaian yang bisa Anda syukuri? Bagaimana Anda melihat rencana dan kehendak Tuhan di balik pencapaian tersebut?