Bagikan artikel ini :

Air Susu Dibalas Air Tuba

2 Tawarikh 20:1-19

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
- Roma 12:19

 

Kerajaan Yehuda Selatan memang dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang ingin menghancurkannya. Di antara semua bangsa tersebut, bani Moab dan Amon adalah bangsa yang spesial. Bagaimana tidak? Bangsa Moab dan Amon adalah bangsa yang lahir dari keturunan Lot, keponakan Abraham (Kej. 19:37-38). Karena hubungan darah tersebut, Tuhan tidak menghendaki adanya peperangan di antara mereka. Bahkan ketika orang Israel keluar dari Mesir untuk masuk ke Kanaan, Dia melarang mereka menyerang kedua bani tersebut (Ul. 2:9, 18-19). Israel pun menaati perintah Tuhan.

 

Apa balasan dari kedua bani tersebut? Bak air susu dibalas air tuba, justru mereka hendak menyerang Yehuda Selatan dengan pasukan yang besar. Inilah alasan mengapa Yosafat menyebutkan sejarah bangsa mereka dalam doa permohonannya kepada Tuhan, mengenai bagaimana dahulu bangsa Israel tidak memerangi mereka ketika melintasi daerah mereka (ay. 10), tetapi kini kedua bani itu malah mencari gara-gara dengan Israel. Sebagai jawaban, Tuhan berbicara melalui nabi-Nya, Yahaziel, bahwa “bukan kamu yang akan berperang, melainkan Allah” (ay. 15).

 

Mungkin Anda pernah mengalami perasaan yang sama. Anda berbuat baik kepada seseorang. Anda meminjamkan uang kepada salah satu rekan kerja yang membutuhkan. Anda memberikan pekerjaan kepada seorang saudara yang baru di-PHK. Anda menemani seorang teman yang sebatang kara ketika ia dirawat di rumah sakit. Namun, apa yang ia lakukan? Bukannya membayar hutangnya, orang itu malah memakai data Anda untuk mendaftarkan diri di situs-situs pinjol (pinjaman online). Orang yang Anda beri pekerjaan rupanya melakukan kecurangan dalam perusahaan Anda, bahkan mungkin mengambil alih bisnis tersebut. Teman yang Anda dampingi dulu ketika sakit kini menjelek-jelekkan nama Anda di belakang Anda. Menyakitkan, bukan?

 

Kita diingatkan untuk menyerahkan pembalasan tersebut kepada Tuhan. Dia adalah Allah yang Maha Melihat. Tuhan tahu siapa yang berada di pihak yang benar dan yang salah, dan akan menghakimi sesuai dengan hikmat-Nya. Justru jika kita main balas sendiri, kita akan sama buruknya dengan orang tersebut di hadapan Tuhan. Biarlah Tuhan yang menjadi Hakim bagi kita.


Refleksi Diri:

  • Pernahkan kebaikan Anda dibalas dengan kejahatan oleh orang lain? Bagaimana perasaan Anda dan apa yang ingin Anda lakukan terhadap orang tersebut?
  • Mengapa kita tidak boleh main hakim sendiri, melainkan harus menyerahkan penghakiman kepada Tuhan?