0 Musuh
2 Tawarikh 17:10-19
Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.
- Amsal 16:7
Kita telah melihat bagaimana Yosafat hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Ia bahkan rindu mengajarkan Taurat kepada penduduk Yehuda Selatan. Tuhan pun menyertai dan memperkokoh kerajaannya. Alkitab mencatat bahwa “ketakutan yang dari TUHAN menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling Yehuda” (ay. 10). Tidak hanya bangsa-bangsa tersebut tidak berani memeranginya, mereka bahkan memberikan upeti kepadanya (ay. 11).
Sebuah pepatah dalam bahasa Inggris berbunyi: A thousand friends are too few, one enemy is too many (seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak). Itulah sebabnya penulis Kitab Tawarikh selalu menekankan ketiadaan peperangan sebagai tanda bahwa pemerintahan raja tersebut diberkati. Padahal, entah berapa banyak kerajaan asing yang kepadanya Yehuda berusaha untuk menjalin persahabatan (sampai-sampai membayar upeti kepadanya), pada akhirnya berbalik dan menjadi musuh. Jadi, catatan penulis Alkitab bahwa tidak ada yang memusuhi Yehuda Selatan, bahkan bangsa-bangsa lain-lah yang justru membayar upeti kepada Yosafat, menyiratkan bahwa Yosafat adalah raja yang sungguh baik dan luar biasa seperti halnya Salomo.
Itulah hal yang kita dambakan dalam hidup kita, bukan? Ketika kita hidup taat kepada Tuhan, ketaatan itu akan terpancar dalam keseharian kita dengan sesama. Kita menjadi orang yang penuh kasih dan hikmat. Kita bisa menyelesaikan konflik dengan baik, bahkan menjadi pendamai bagi orang lain. Keputusan-keputusan yang kita ambil tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga sesama. Pada akhirnya, orang-orang yang awalnya tidak menyukai kita pun akan berubah pikiran dan menjadi kawan kita.
Tentu saja, ada konteks-konteks tertentu dimana permusuhan terhadap orang Kristen tidak terhindarkan, misalnya dalam hal penganiayaan. Sayangnya, kadang kita sebagai orang Kristen banyak memiliki musuh, bahkan meski tidak dalam konteks penganiayaan. Mengapa? Mungkin karena kita bersifat eksklusif dan merasa lebih baik daripada orang lain. Bahkan musuh-musuh terdekat kita adalah sesama orang percaya di dalam gereja yang sepelayanan dengan kita. Namun, kita dengan munafiknya suka berdalih, “Aku punya banyak musuh karena aku melakukan yang benar dan taat kepada Tuhan.”
Hiduplah dalam ketaatan yang sungguh kepada Tuhan. Jika Tuhan berkehendak, maka Dia akan mendamaikan musuh-musuh Anda dengan Anda.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah atau sedang bermusuhan dengan seseorang? Mengapa Anda bermusuhan dengannya?
- Bagaimana ketaatan kepada firman Tuhan akan membawa kedamaian antara Anda dan musuh Anda tersebut?
