Waspada Terhadap Ketamakan
Lukas 12:15-21
Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.”
- Lukas 12:15
Kita hidup di tengah zaman yang mengukur keberhasilan berdasarkan rumah mewah, mobil mahal, dan investasi. Ukuran keberhasilan ini menciptakan budaya tamak yang mendorong kita untuk memiliki lebih banyak, membeli lebih sering, dan mengejar kesuksesan materi, seakan-akan di sanalah letak arti kehidupan. Ketamakan adalah sebuah keinginan yang sangat besar dan tak terbatas untuk memperoleh sesuatu, seperti kekayaan, kekuasaan atau barang, dengan tujuan untuk menyimpannya bagi diri sendiri, jauh melebihi kebutuhan dan kenyamanan dasar. Dengan kata lain, ketamakan bisa diartikan sebagai keserakahan, kerakusan atau nafsu yang berlebihan.
Peringatan Yesus tentang ketamakan di ayat emas bukanlah sekadar nasihat moral, tetapi seruan untuk kembali pada nilai hidup yang sejati. Ketamakan adalah sikap hati yang melawan ketergantungan kepada Allah. Yesus mengingatkan bahwa hidup manusia tidak ditentukan oleh materi yang dimilikinya, tetapi oleh relasi iman dan ketundukannya kepada Allah. Ketamakan adalah bentuk penyembahan berhala modern yang mengandalkan uang dan mencari rasa aman dari harta, bukan dari Allah. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini memperlihatkan bahwa kekayaan duniawi tidak bisa menjamin damai sejahtera, sukacita atau keselamatan kekal. Ini sejalan dengan 1 Timotius 6:10a, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang,” yang menunjukkan bahwa ketamakan bukan hanya merusak, tetapi menyesatkan hati manusia dari iman.
Mari mengevaluasi motivasi dan prioritas hidup kita, apakah kita hidup untuk mengumpulkan harta atau untuk melayani Tuhan? Jangan terjebak dalam pola pikir, lebih banyak berarti lebih bahagia. Seperti seseorang yang membangun rumah besar di atas pasir, kelihatan kuat, tetapi rapuh, demikian pula hidup yang berfokus pada harta, tanpa fondasi iman. Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Mrk. 8:36). Bijaklah dalam mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, juga untuk memberi kepada yang membutuhkan. Kita memberi bukan karena kelebihan, tetapi karena kasih, menolak gaya hidup konsumtif, dan terus mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan, bukan milik mutlak kita. Ingat, kepuasan sejati hanya ditemukan di dalam Kristus, bukan di dalam harta.
Refleksi diri:
- Apakah Anda pernah merasa hidup Anda bergantung pada harta atau kepemilikan materi sehingga mengabaikan hal-hal yang lebih penting secara rohani?
- Bagaimana Anda bisa melatih hati untuk lebih bersyukur dan tidak terjebak dalam keinginan tak berujung akan harta benda?
