Sungguh, Orang Inilah Anak Allah!
Markus 15:1-41
Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”
- Markus 15:39
Kita mungkin pernah menyaksikan video yang menampilkan seseorang yang dianggap cupu (tidak bisa apa-apa) ternyata adalah suhu (sangat ahli). Orang-orang awalnya menganggap dirinya tidak mampu dan seorang amatiran, bahkan meremehkan dengan mengatakan, “Sudah jangan naik panggung, nanti kamu malah dipermalukan.” Namun ternyata, pada saat orang tersebut beraksi, justru ia mempermalukan orang-orang yang menghina dan menganggapnya amatiran. Bahkan akhirnya, orang-orang mengakuinya sebagai orang hebat.
Yesus sebelum ditangkap adalah sosok idola yang dikagumi orang-orang karena melakukan banyak tanda dan mukjizat. Namun, peristiwa penangkapan Yesus sepertinya membuat mereka meragukan-Nya. Yesus dianggap sebagai sosok biasa-biasa saja, bahkan banyak orang juga menghina dan mengolok-olok-Nya.
Markus 15 menceritakan bagaimana Yesus dianggap lebih jahat dari Barabas, sang pemberontak. Orang-orang Yahudi lebih senang Barabas yang dibebaskan dibandingkan Yesus (ay. 14-15). Para serdadu yang menangkap Yesus juga menghina-Nya dengan memakaikan jubah ungu dan mahkota duri. Mereka pura-pura memberi hormat, tetapi sebenarnya menghina dan mengolok-olok Tuhan (ay. 17-18). Pada saat Yesus sudah naik ke atas kayu salib, orang-orang yang lewat menghujat Dia dengan berkata, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” (ay. 29-30). Para imam dan ahli Taurat juga mengolok-olok Yesus dengan berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” (ay. 31).
Apa yang dianggap rendah dan hina, justru membuktikan diri sebagai sosok yang luar biasa. Tatkala Yesus hendak menyerahkan nyawa-Nya, kegelapan terjadi meliputi seluruh daerah dari jam dua belas sampai jam tiga (ay. 33). Tabir Bait Suci terbelah menjadi dua dari atas sampai ke bawah (ay. 38). Melihat peristiwa-peristiwa yang mengiringi kematian Yesus, kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan-Nya akhirnya menyaksikan bahwa Yesus bukanlah orang biasa, sehingga ia menyatakan, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (ay. 39).
Kematian Kristus di atas kayu salib menegaskan bahwa Dia adalah Anak Allah, yang sanggup menanggung dosa seluruh umat manusia sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya akan diselamatkan dan tidak binasa. Jumat Agung adalah momen yang menegaskan bahwa Kristus Yesus bukanlah manusia biasa, melainkan Anak Allah yang Mahatinggi yang rela turun ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita semua.
Refleksi Diri:
- Apa bukti bagi Anda pribadi yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia menebus dan menyelamatkan Anda?
- Bagaimana momen Jumat Agung ini, bisa menyakinkan Anda sekali lagi bahwa Yesus bukanlah manusia biasa?
