Sama Dengan Pembunuh
1 Yohanes 3:14-16
Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.
- 1 Yohanes 3:15
Apakah ayat di atas berlebihan dan terlalu keras dengan mengatakan bahwa membenci saudaranya adalah pembunuh manusia? Seringkali orang menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilakukan, tetapi tidak menilai berdasarkan apa yang ada di dalam hati. Apakah Anda pernah mendengar seseorang diadili dan dihukum penjara karena membunuh seseorang di dalam pikirannya, tanpa ia pernah melakukan tindakan pembunuhan tersebut? Tidak pernah, bukan? Pernahkah Anda juga mendengar seseorang menganiaya orang yang dibencinya di dalam pikirannya, tanpa pernah melakukan tindakannya, lalu ditangkap dan dihukum? Tidak pernah juga, kan? Sebab hukum dunia hanya dapat menghakimi tindakannya jika seseorang telah melakukannya. Hati orang tidak pernah ada yang tahu.
Mengapa dikatakan setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia? Sebab Tuhan tahu isi hati kita. Dia menilai apa yang ada di dalam hati. Seorang pembenci dan pembunuh sebenarnya memiliki motivasi yang sama. Kita terkadang dapat membenci dengan canggih. Kita dapat menyembunyikan ketidaksukaan atau kebencian kita terhadap saudara seiman. Kita bisa berjabat tangan dengan senyuman di hadapannya, tetapi menaruh kebencian di dalam hati. Kita mengucapkan kata-kata doa, “Sukses yah, bro”, padahal dalam hati, semoga lu gagal. Dengan kesantunan, kita sedang menutupi kebencian. Kalau ada kebencian di dalam hati yang kita simpan terhadap saudara seiman, bahkan menutupinya dengan cara yang canggih, maka kita perlu segera bertobat dan mengasihi mereka kembali.
Rasul Yohanes memahami, tidak selalu mudah untuk mengasihi seseorang yang telah menyakiti, memfitnah atau melukai hati kita. Karena itu, ia menunjukkan alasan utama kita saling mengasihi di ayat 16, “Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Kita sebenarnya adalah orang-orang yang sangat tidak layak dikasihi, tetapi Kristus telah mengasihi kita dengan pemberian yang terbesar, yaitu diri-Nya sendiri. Hidup kita sekarang dilingkupi oleh kasih-Nya. Kemampuan kita mengasihi datangnya dari Tuhan sendiri. Jika kita merasa terlalu sulit untuk mengasihi saudara seiman maka kita perlu melihat kembali bagaimana Kristus mengasihi kita.
Refleksi Diri:
- Apakah dalam pikiran Anda muncul kebencian dan mengharapkan yang buruk dari seseorang, khususnya saudara seiman?
- Apa artinya Kristus telah mengasihi Anda dengan pengorbanan diri-Nya? Bagaimana pemahaman ini memampukan Anda mengasihi orang tersebut?
