Bagikan artikel ini :

Peredaran Darah Gereja

1 Yohanes 3:11-13

Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;
- 1 Yohanes 3:11

Gereja sebagai komunitas orang percaya begitu beragam, dari berbagai suku, bahasa, warna kulit, dan budaya. Belum lagi di lingkup yang lebih kecil, seperti latar belakang keluarga, pendidikan, tingkat ekonomi, dan pekerjaan. Ini terjadi baik dalam gereja yang lingkupnya global maupun lokal. Dengan semua keberagaman tersebut, sangat berpotensi untuk terjadi perpecahan, bukan? Gereja seringkali bergumul dengan perpecahan. Kasih menjadi kering dan hambar di dalam gereja. Orang-orang percaya cenderung hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak memperhatikan saudara seiman. Lebih ekstrem lagi ketika gereja justru berjalan anomali, bukan kasih yang beroperasi di dalam kehidupan orang-orang percaya, melainkan kebencian dan permusuhan.

Beberapa orang berpendapat kasih adalah peredaran darahnya gereja. Tanpa kasih di dalam komunitas orang percaya, gereja dalam bahaya yang sangat besar. Kasih menjalin semua perbedaan dan membuat gereja hidup. Rasul Yohanes mengangkat kisah tragis di awal sejarah kehidupan manusia, yaitu saat Kain membunuh adik kandungnya sendiri, Habel (ay. 12). Mengapa Kain membunuh adiknya? Apakah karena perebutan warisan? Bukan. Kain menghancurkan hidup adiknya karena masalah persembahan, hal yang seharusnya sangat bernilai rohani, menjadi alasan pembunuhan yang brutal. Kain tidak lagi memandang Habel sebagai saudara kandung. Rasa benci dibiarkannya meluas dan menguasai dirinya.

Karena itu, Rasul Yohanes mengkontraskan kejadian ini dengan seruan untuk saling mengasihi sebagai saudara seiman, bukan seperti Kain. Jangan sampai saudara seiman, tetapi rasa musuh bebuyutan. Kita perlu melihat diri dengan jujur di hadapan Tuhan, apakah ada kebencian terhadap saudara seiman kita? Apakah kita iri terhadap saudara seiman yang lebih dikenal di lingkungan gereja, yang dipuji pelayanannya? Ingatlah, kita adalah saudara seiman, yang bukan hidup dalam kebencian, melainkan dalam kasih.

Mengasihi saudara seiman bukanlah sebuah pilihan, tetapi jalan hidup setiap kita orang percaya. Ini adalah panggilan untuk semua orang percaya, bukan hanya pendeta, penginjil, atau penatua dan diaken saja. Siapa pun Anda, yang mengaku percaya Tuhan Yesus, dipanggil untuk menghidupi kasih di dalam gereja Tuhan. Kasihilah saudara seiman kita sama seperti kita telah dikasihi oleh Yesus Kritus.


Refleksi Diri:

  • Apakah ada saudara seiman yang kepadanya Anda sulit untuk menyatakan kasih? Mengapa?
  • Apa yang mau Anda lakukan terkait pertanyaan pertama? Apakah Anda mau dalam pertolongan Tuhan, mengasihinya?